Biaya Jadi Hambatan Terbesar Terapi Berkelanjutan

Dhini melanjutkan, selain tantangan emosional dan sosial, keluarga juga harus menghadapi persoalan finansial. Sebanyak 71% responden menyebut biaya sebagai hambatan terbesar untuk menjalani terapi secara berkelanjutan.

Hambatan lainnya meliputi lokasi klinik atau tempat terapi yang jauh serta panjangnya antrean. Dengan demikian, perjalanan keluarga dalam mendampingi anak neurodivergent tidak hanya membutuhkan kesiapan emosional, tetapi juga kemampuan finansial dan dukungan logistik.

Beban biaya bahkan sudah muncul sejak tahap evaluasi dan diagnosis, sebelum anak menjalani terapi secara rutin. Sebagian besar responden mengaku mengeluarkan biaya kurang dari Rp3 juta untuk proses awal, tetapi terdapat pula keluarga yang harus menghabiskan lebih dari Rp10 juta hanya untuk mendapatkan evaluasi dan diagnosis.

“Bagi sebagian keluarga, mencari jawaban saja sudah menjadi perjuangan tersendiri,” ujar Dhini.

Dalam hal pendidikan, lanjut Dhini, banyak orang tua tetap berharap anak mereka dapat belajar bersama teman-teman sebaya di sekolah reguler. Namun, keberadaan anak neurodivergent di sekolah reguler belum tentu selalu diikuti program pendampingan yang memadai.

Dhini pun menekankan bahwa sekolah reguler bukan berarti tidak dapat menjadi pilihan bagi anak neurodivergent. Namun, label atau jenjang sekolah saja tidak bisa menjadi ukuran bahwa kebutuhan anak telah sepenuhnya didukung.

Hampir setengah responden melaporkan pernah mengalami pengalaman negatif di sekolah. Salah satu persoalan yang paling sering muncul adalah guru yang belum memahami kondisi dan kebutuhan anak secara memadai.

Meski menjadi tantangan, Dhini melihat persoalan tersebut sebagai sesuatu yang masih dapat diperbaiki. Peningkatan pemahaman guru mengenai neurodiversitas dinilai dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi anak.

Lebih jauh, kata Dhini, kebutuhan orang tua juga mulai bergeser. Mereka tidak hanya mengejar pencapaian akademik atau nilai sekolah anak.

“Orang tua itu sekarang tidak hanya mengejar nilai rapor. Tapi yang mereka pikirkan justru masa depan anaknya. Ke depannya bisa kerja nggak? Dia bisa mandiri nggak? Dia bisa bergaul dengan teman-temannya?,” tutur Dhini.

Karena itu, menurutnya, keberhasilan intervensi tidak semata-mata diukur dari perkembangan anak selama menjalani terapi. Yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana keterampilan yang dipelajari dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Atelier of Minds: Mendorong Pendidikan Inklusif dan Membantu Anak Neurodivergent Menemukan Bakatnya