Orang Tua Perlu Percaya pada Intuisi dan Tidak Berjalan Sendiri
Nah Growthmates, dari berbagai temuan tersebut, Atelier of Minds merangkum sejumlah pesan penting bagi orang tua. Salah satunya adalah pentingnya mempercayai intuisi dan pengalaman mereka sendiri dalam memahami anak.
Orang tua merupakan pihak yang paling mengenal keseharian anak. Namun, kepercayaan terhadap intuisi tersebut bukan berarti orang tua harus mencari dan menghadapi seluruh persoalan sendirian.
Di tengah kemudahan memperoleh informasi melalui internet, media sosial, hingga teknologi kecerdasan buatan, Dhini mengingatkan pentingnya tetap melibatkan tenaga profesional yang dapat menjadi mitra diskusi.
Orang tua juga perlu memperhatikan kesehatan mental mereka sendiri. Selama mendampingi anak, orang tua kerap menempatkan kebutuhan anak sebagai prioritas utama hingga melupakan kondisi dirinya.
“Kadang-kadang orang tua itu mikir anak, anak, anak. Mereka lupa bahwa kesehatan mental mereka juga penting. Ketika orang tua sudah burnout, di rumah juga anak pasti akan terbawa burnout,” ungkap Dhini.
Karena itu, mengambil jeda untuk beristirahat dan mengisi kembali energi bukanlah bentuk mengabaikan anak, melainkan bagian dari kemampuan orang tua untuk terus mendampingi anak secara sehat.
Selain itu, lanjut Dhini, orang tua juga disarankan tidak hanya mencari sekolah atau fasilitas yang mengklaim diri sebagai inklusif, tetapi memastikan bahwa praktik inklusi benar-benar diterapkan dalam keseharian.
Bagi sekolah, Dhini pun menekankan pentingnya mengubah cara pandang terhadap orang tua. Orang tua bukan pihak yang hanya menerima laporan perkembangan anak atau menyampaikan keluhan kepada sekolah.
“Orang tua itu bukan lawan. Orang tua juga bukan sekadar pemberi laporan. Orang tua adalah sumber informasi pertama tentang anaknya,” tegas Dhini.
Menurutnya, inklusi juga tidak cukup hanya dengan menerima anak neurodivergent untuk bersekolah bersama teman-teman sebayanya. Inklusi berarti memastikan anak benar-benar diterima, dipahami, dan memiliki kesempatan berkembang yang sama.
Dan pada akhirnya, kata Dhini, survei tersebut ingin mengembalikan perhatian pada suara orang tua sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem yang mendukung anak neurodivergent
Dhini pun berharap, media, KOL, pembuat kebijakan, tenaga profesional, sekolah, dan masyarakat dapat bersama-sama membangun sistem dukungan yang lebih baik bagi anak-anak neurodivergent dan keluarganya.
“Karena sebetulnya setiap anak berhak untuk tumbuh di lingkungan yang memahami mereka. Dan setiap orang tua pun juga berhak merasa bahwa mereka tidak menjalani perjalanan ini sendiri,” pungkas Dhini.
Baca Juga: Memahami Anak Neurodivergent, Kunci Pendampingan Tanpa Ekspektasi Instan