Di rumah, di pusat perbelanjaan, atau saat berada di tempat ramai, orang tua mungkin pernah menghadapi situasi ketika anak tiba-tiba menangis keras, berteriak, menutup telinga, atau menolak diajak bicara. Respons spontan yang muncul sering kali adalah menganggap anak sedang tantrum. Padahal, perilaku yang terlihat serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama.

Anak yang menangis karena tidak dibelikan mainan bisa saja sedang frustrasi. Sementara anak yang menutup telinga di tengah keramaian, kemudian berteriak dan sulit diajak berkomunikasi, mungkin sedang mengalami overload atau bahkan meltdown. Perbedaan ini penting dikenali karena setiap kondisi membutuhkan respons yang tidak selalu sama.

“Yang terlihat oleh orang tua adalah perilakunya. Tetapi sebelum merespons, kita perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya, apa pemicunya, dan apakah anak masih mampu mengendalikan respons,” papar Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam webinar Atelier of Minds bertajuk “Meltdown, Tantrum, atau Overload? Pahami Apa yang Terjadi Saat Anak Kewalahan dan Bagaimana Meresponsnya", yang digelar di Jakarta, belum lama ini.

Lantas, bagaimana orang tua dapat membedakan tantrum, overload, dan meltdown ketika menghadapinya dalam situasi sehari-hari? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Tantrum sering dipicu frustrasi

Tantrum merupakan perilaku yang dapat muncul dalam perkembangan anak, terutama ketika kemampuan untuk mengelola emosi dan menghadapi situasi sulit masih berkembang.

Misalnya, anak menangis atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi fisik juga dapat membuat anak lebih mudah frustrasi. Rasa lapar, lelah, atau sedang tidak enak badan dapat menurunkan toleransi anak terhadap situasi yang sebenarnya masih mampu ia hadapi.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat perilaku anak saat tantrum terjadi. Perhatikan pula apa yang terjadi sebelum anak mulai menangis, berteriak, atau menunjukkan penolakan.

Dengan memahami pemicu, orang tua dapat melihat apakah anak sedang berusaha mendapatkan sesuatu atau memang sudah mulai kewalahan menghadapi situasi di sekitarnya.

2. Overload terjadi ketika beban yang diterima anak terlalu banyak

Tidak semua ledakan emosi terjadi karena anak menginginkan sesuatu. Dalam kondisi tertentu, anak dapat mengalami overload ketika jumlah atau intensitas informasi yang harus diproses terasa terlalu berat.

Sensory overload, misalnya, dapat terjadi ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan dari lingkungan, seperti suara keras, cahaya, keramaian, atau sentuhan. Sementara itu, emotional overload dapat terjadi ketika emosi yang dirasakan terlalu besar untuk dikelola.

Ada pula cognitive overload, ketika anak harus memproses terlalu banyak informasi, instruksi, atau tuntutan dalam waktu bersamaan.

“Suara, cahaya, keramaian, perubahan aktivitas atau tuntutan tertentu bisa terasa jauh lebih intens bagi sebagian anak. Kita perlu belajar mengenali kapan anak mulai kewalahan, bukan menunggu sampai responsnya menjadi sangat besar,” kata Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Terapis Okupasi Atelier of Minds.

Artinya, perubahan perilaku anak dapat menjadi tanda awal bahwa kapasitasnya untuk menerima dan memproses situasi mulai penuh.

3. Meltdown terjadi ketika anak sudah kehilangan kendali

Meltdown dapat terjadi ketika anak sudah berada dalam kondisi sangat kewalahan hingga kehilangan kendali atas responsnya.

Manifestasinya bisa berbeda pada setiap anak. Anak dapat menangis atau berteriak, memukul, menggigit, melempar barang, mencoba melarikan diri, hingga menunjukkan perilaku yang berisiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Pada kondisi ini, anak juga dapat mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, menerima instruksi, atau berpikir jernih.

Perbedaan ini penting dipahami karena respons yang diberikan ketika anak sedang meltdown tidak sama dengan ketika anak sedang tantrum. Ketika kapasitas anak untuk memproses informasi sudah sangat terbatas, memberikan banyak pertanyaan atau instruksi justru dapat menambah beban.

Karena itu, orang tua perlu mengutamakan keamanan dan membantu mengurangi rangsangan maupun tuntutan yang sedang dihadapi anak.

Baca Juga: Founder Atelier of Minds: Orang Tua Anak Neurodivergent Tidak Seharusnya Menjalani Perjuangan Sendirian