Perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS) terus berkecamuk pasca serangan Israel-AS pada akhir pekan lalu yang menewaskan pemimpin Agung Iran Ali Khamenei dan sejumlah petinggi negara itu, perang itu kini meluas ke beberapa wilayah Timur.
Banyak pihak berpendapat bahwa perang itu bakal dimenangkan dengan mudah oleh Israel dan AS karena kecanggihan teknologi militer mereka serta sokongan dari sejumlah sekutu mereka di Eropa.
Baca Juga: Perang Iran-Israel dan AS Makin Genting, Indonesia Diminta Dorong PBB Gelar Sidang Luar Biasa
Di atas kertas Israel-AS memang unggul secara teknologi militer yang memungkinkan mereka menyudahi perang itu dengan kemenangan besar, tetapi perlu diingat Iran bukan lawan sepele dan bukan mustahil mereka bisa menuntaskan dendam mereka dalam perang tersebut dengan kemenangan besar.
Peneliti di GEII Harvard Graduate School of Education Prof. Jiang Xueqin, mengatakan peluang kemenangan Iran dalam perang kali ini terbuka lebar. Perlu diketahui Prof. Jiang sudah kerap kali mengeluarkan analisa presisi yang telah terbukti salah satunya soal terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden AS untuk ke dua kalinya.
Dalam siaran yang tayang di kanal Youtube pribadinya Predictive History episode Game Theory #9: The US-Iran War, Prof Jiang Xueqin mengatakan salah satu keunggulan yang memungkinkan Iran memenangkan perang tersebut adalah keberadaan Selat Hormuz. Ketika Iran gerak cepat menutup selat selebar 33 kilometer yang menjadi jalur pengiriman minyak mentah ke berbagai pelosok dunia itu, maka Iran telah diuntungkan dari berbagai segi.
Seperti diketahui, pasokan minyak dari negara-negara GCC (Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar), yang setara 20% total suplai minyak global sedianya melewati selat ini, menuju negara-negara Asia, India, Pakistan, Korsel, China, Jepang dan sebagainya. 60% impor minyak ke India berasal dari GCC, begitupun dengan China sebesar 40% dan Jepang sebesar 75%.
Dengan penutupan Selat Hormuz maka suplai minyak bakal tersendat dan itu bakal berimplikasi pada aliran petrodolar yang mengancam ekonomi AS. Harus diakui ekonomi AS bisa tumbuh pesat karena peran negara-negara GCC.
Petrodolar adalah dolar AS yang diterima negara pengekspor minyak (seperti anggota OPEC) atas penjualan minyak mentah, yang populer sejak tahun 1970-an. Petrodolar menjadi sistem perdagangan global dimana minyak dinominasikan dalam dolar, menciptakan permintaan konstan terhadap dolar AS dan mendaur ulang pendapatan
Selain Selat Hormuz yang bisa menjadi senjata mematikan untuk menyerang ekonomi AS, keunggulan lainnya yang bikin Iran berpotensi memenangkan perang ini adalah soal tata letak geografis.
Menurut Prof Jiang Xueqin wilayah Iran yang terdiri dari banyak pegunungan bisa menjadi benteng alami yang memudahkan mereka dalam peperangan ini. Kondisi geografis seperti ini memudahkan Iran menyembunyikan senjata perang seperti pangkalan roket, misil dan drone. Dengan ini, Iran memiliki posisi geografis yang jauh lebih strategis untuk meluncurkan senjata mereka.
Baca Juga: Menghitung Modal Prabowo Jadi Juru Damai Konflik Iran dan Israel-AS
Prof. Jiang mengatakan bahwa GCC sendiri jadi kunci dalam peperangan ini. Mereka menjual minyak dan menghasilkan dolar AS. Dolar AS ini kemudian diinjeksikan lagi ke pasar modal AS.
Tercatat sejak 2012 hingga hari ini, jumlahnya terus meroket. Dari Arab Saudi, UEA dan Kuwait saja, investasinya tembus USD1,1 triliun di 2012-2024, berdasarkan data The Fed. Ini wajar mengingat pasar modal AS jadi salah satu safe haven (instrumen teraman) dari berbagai risiko geopolitik.