Indonesia menjadi salah satu negara yang bakal terdampak perang Iran bersama Israel dan Amerika Serikat (AS) yang sedang bergejolak sekarang ini, salah satu hal krusial yang terimbas adalah sektor ekonomi, banyak analis telah memprediksi ini, bahkan harga minyak diperkirakan bakal melonjak melampaui $100 jika konflik berkepanjangan dan hal itu turut memengaruhi ekonomi Indonesia.
Ekonom dari Universitas Padjajaran, Ferry Hadiyanto mengatakan, guncangan terhadap ekonomi Indonesia benar-benar mulai terasa ketika sejumlah negara Timur Tengah memilih melibatkan diri dalam perang tersebut. Skenario terburuknya kata dia, dalam dua pekan ke depan Ekonomi kita sudah mulai terimbas akibat imbas perang itu.
Baca Juga: Seberapa Besar Peluang Iran Memenangkan Perang Lawan Israel-AS?
Menurutnya, dampak ekonomi tidak melulu soal harga minyak yang melambung imbas penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran sebagai respons atas serangan Israel dan AS pada akhir pekan lalu, perang tiga negara itu kata dia bisa berdampak pada turunnya kegiatan ekspor impor yang dilakukan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah. Padat Karya menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
"Katakan sektor padat karya di Indonesia, misalnya sektor pertanian, kita kan ekspornya banyak juga sektor pertanian ke Timur Tengah," katanya dilansir Jumat (6/3/2026).
Ia juga menyinggung APBN 2026 yang dirancang dengan asumsi harga minyak domestik sebesar $70 per barel. Jika harga minyak dunia melonjak hingga $100 per barel sebagaimana analis global, ini akan menjadi tekanan bagi APBN (subsidi energi), nilai tukar rupiah, dan inflasi domestik.
Ditambah lagi, pada Januari 2026 APBN juga mengalami defisit Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21% dari PDB (YoY). Defisit terjadi lantaran belanja negara lebih besar dari pendapatan.
"Itu semakin akan memberatkan daya beli masyarakat Indonesia. Dan saya pikir dampaknya bisa langsung ke pertumbuhan ekonomi. Takutnya ekonomi kuartal 1 dan kuartal 2 itu akan terhantam benar," ujarnya.
Sementara itu pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin mengatakan ekonomi Global bakal benar-benar terguncang ketika perang ini sudah mulai melebar dan mengganggu jalur perdagangan dunia di Laut Merah yang menjadi jalur paling penting bagi sekitar 70% perdagangan global.
“Jalur perairan strategis tersebut sangat krusial bagi kelancaran distribusi pasokan komoditas energi ke berbagai penjuru dunia,” kata dia.
Indonesia lanjut Rizky menjadi salah satu negara yang paling terdampak perang Iran dan Israel serta AS itu ketika jalur perdagangan Laut Merah juga mulai terdampak setelah penutupan Selat Hormuz.
“Seluruh sektor industri di Tanah Air akan merasakan beban berat karena tingginya ketergantungan nasional terhadap pasokan energi fosil dari luar negeri,” ujar Rizky.
Rizky mendorong pemerintah untuk merespons situasi ini dengan langkah strategis, termasuk memaksimalkan potensi industri dalam negeri untuk mencapai swasembada energi. Upaya ini dinilai krusial untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi asing. Selain menjaga ketersediaan energi konvensional, percepatan pengembangan energi hijau atau terbarukan juga menjadi prioritas, mengingat ketegangan geopolitik dan militer di Timur Tengah diprediksi berlangsung cukup lama.
“Kesiap-siagaan energi menjadi kunci agar aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan tangguh di tengah gejolak pasar dunia,” kata Rizky.
Langkah Antisipasi
Beberapa hari lalu Presiden Prabowo telah mengumpulkan sejumlah tokoh termasuk presiden-presiden dari era sebelumnya untuk meminta pandangan mereka terkait langkah apa saja yang mesti diambil pemerintah dalam menghadapi dampak perang tersebut. Saat ini pemerintah tengah putar otak mencari jalan terbaik untuk meminimalkan dampak perang Iran.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengaku saat ini pihaknya sedang mengatur pertemuan dengan para pelaku usaha dalam negeri untuk membahas potensi gangguan terhadap aktivitas ekspor dan impor nasional.
Baca Juga: Perang Iran-Israel dan AS Makin Genting, Indonesia Diminta Dorong PBB Gelar Sidang Luar Biasa
Budi mengatakan hingga saat ini Kementerian Perdagangan masih mengkaji sejauh mana dampak konflik tersebut terhadap kinerja perdagangan nasional. Namun, pembahasan lebih mendalam akan dilakukan bersama para pelaku usaha, khususnya para eksportir.
“Ya memang kita antisipasi. Namun, rencananya besok kami akan bertemu dengan para eksportir untuk membahas problem apa yang muncul dan masalahnya ada di mana,” ujar Budi.