Roemah Koffie meluncurkan Cublak Suweng, lini premium roastery beans yang memadukan biji kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh, dan kopi Temanggung, Jawa Tengah. Produk yang diperkenalkan di Roemah Koffie PIK 2, Kabupaten Tangerang, Kamis (16/7/2026), ini mengusung konsep berbeda dengan mengangkat filosofi lagu tradisional Jawa sebagai identitas produknya.
Tidak seperti kebanyakan kopi premium yang menggunakan nama daerah asal sebagai merek, Cublak Suweng mengambil inspirasi dari lagu permainan tradisional Jawa Tengah yang sarat makna tentang kebersamaan, kebahagiaan, dan pencarian jati diri.
Filosofi tersebut dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman menikmati kopi sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat.
Baca Juga: Roemah Koffie Gelar Nikahan Massal Anak Daro di Jakarta Coffee Week 2025
CEO Roemah Koffie Felix TJ mengatakan Indonesia memiliki kekayaan budaya yang dapat menjadi nilai tambah bagi industri kopi nasional. Menurutnya, kopi tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga media untuk membawa cerita dan identitas bangsa ke pasar yang lebih luas.
"Indonesia terlalu kaya dan terlalu indah untuk tidak diceritakan. Masih banyak kisah yang belum dikenal. Karena itu kami memilih mengangkat lagu-lagu tradisional sebagai identitas setiap produk agar budaya Indonesia bisa terus hidup dan dikenal lebih luas," ujar Felix.
Ia menjelaskan, Cublak Suweng merupakan seri ketiga dari lini produk Roemah Koffie yang terinspirasi dari lagu daerah Indonesia. Perusahaan menargetkan peluncuran varian baru setiap enam bulan dengan mengangkat lagu tradisional dari berbagai daerah.
Baca Juga: Peresmian Program Seribu Sarjana Pertanian dari Roemah Koffie Bersama Yayasan JHL Merah Putih
Dari sisi cita rasa, Cublak Suweng memadukan karakter fruity khas kopi Gayo dengan sentuhan karamel, hazelnut, dan cokelat dari kopi Temanggung.
Perpaduan tersebut menghasilkan profil rasa yang seimbang dengan tingkat keasaman rendah (low acidity) dan body yang kuat, sehingga dapat dinikmati sebagai kopi hitam maupun minuman berbasis susu.
Dalam kesempatan yang sama, Commercial Director Roemah Koffie Ryo Limijaya mengatakan, produk tersebut dirancang agar fleksibel digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari penikmat kopi rumahan hingga pelaku usaha kedai kopi.
"Kami ingin menghadirkan kopi yang versatile. Saat diseduh sebagai black coffee, rasanya tetap seimbang, sementara ketika dijadikan espresso atau dicampur susu, karakter kopinya tetap terasa," kata Ryo.
Selain menyasar konsumen ritel, Roemah Koffie juga menargetkan pasar business-to-business (B2B), khususnya kafe dan kedai kopi yang membutuhkan biji kopi dengan kualitas dan karakter rasa yang konsisten.
Menurut Ryo, meningkatnya konsumsi kopi di Indonesia membuka peluang bagi pertumbuhan segmen kopi premium lokal. Karena itu, perusahaan berupaya menghadirkan produk yang tidak hanya unggul dari sisi kualitas, tetapi juga memiliki nilai budaya sebagai pembeda di tengah persaingan pasar.
Di sisi lain, Roemah Koffie juga mengumumkan program pemberdayaan petani kopi di Temanggung senilai sekitar Rp120 juta. Program tersebut ditujukan untuk mendukung kesejahteraan keluarga petani melalui berbagai kegiatan pengembangan masyarakat sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan industri kopi nasional.
Felix menilai tantangan industri kopi saat ini tidak hanya terletak pada perluasan pasar, tetapi juga pada upaya menjaga produktivitas kebun dan meningkatkan kesejahteraan petani.
"Keberhasilan sebuah merek kopi seharusnya juga memberikan dampak positif bagi daerah penghasil kopi. Karena itu kami ingin tumbuh bersama para petani yang menjadi bagian penting dari ekosistem kopi Indonesia," ujarnya.
Ke depan, Roemah Koffie berencana memperluas pasar internasional melalui ekspor green bean, roasted bean, serta penguatan merek di berbagai negara. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kopi premium Indonesia sekaligus membawa kekayaan budaya Nusantara ke pasar global.