Melalui komite yang beranggotakan berbagai lintas divisi ini menghasilkan sebuah inisiatif seperti pemberian Childcare Allowance untuk karyawan yang memiliki anak usia di bawah 5 tahun selama masa peak season, seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, yang menjadi wujud nyata kepedulian UNIQLO terhadap kebutuhan karyawan, khususnya perempuan.

Namun di sisi lain, UNIQLO juga menyadari bahwa menciptakan kesetaraan di tempat kerja tidak bisa hanya berhenti pada kebijakan. Masih banyak tantangan yang sering kali tidak terlihat, seperti unconscious bias dan glass ceiling, yang membayangi perempuan dalam dunia kerja. Norma sosial dan budaya yang menekan sering kali membuat perempuan meragukan potensinya sendiri. Karena itu, penting bagi perusahaan untuk tidak hanya menciptakan ruang yang adil, tetapi juga memberikan kepercayaan penuh serta dukungan nyata agar perempuan dapat melangkah lebih jauh.

Untuk itu, keterlibatan aktif dari laki-laki juga menjadi bagian penting dalam menciptakan budaya kerja yang setara. Upaya seperti evaluasi berbasis kinerja, penerapan kode etik perusahaan, serta tersedianya saluran pelaporan turut memperkuat komitmen UNIQLO dalam membangun lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan bebas diskriminasi bagi seluruh karyawan tanpa terkecuali.

Sebagai bagian dari rangkaian perayaan International Women’s Day, UNIQLO turut menyelenggarakan sesi mentoring internal bagi para karyawan perempuan. Sesi ini terbagi ke dalam tiga topik yaitu: The Art of Managing Expectation, Work-Life Balance, dan The Power of Growth, yang dimentori langsung oleh para leader perempuan managerial level internal di UNIQLO. Dalam diskusi kelompok kecil ini, para peserta berkesempatan untuk bertukar pengalaman langsung, mengembangkan kepercayaan diri, serta memperluas pemahaman terhadap tantangan dan peluang dalam perjalanan karir mereka selama ini.

Baca Juga: Mengenal Sosok Tadashi Yanai, Pendiri Brand UNIQLO

Ruang kerja yang memberdayakan perempuan bukan hanya menjadi tanggung jawab tim Human Resources (HR) atau komunikasi internal, melainkan juga harus menjadi bagian dari strategi organisasi secara menyeluruh. UNIQLO tidak hanya menjadikan keberagaman sebagai prinsip, tetapi juga secara aktif membangun sistem yang mendukung praktik tersebut. Lewat kegiatan hari ini, terlihat antusiasme para perempuan yang luar biasa, yang mencerminkan kebutuhan akan lebih banyak ruang diskusi dan dukungan dalam perjalanan kepemimpinan mereka.

UNIQLO memahami bahwa mewujudkan tempat kerja yang inklusif membutuhkan pendekatan menyeluruh, tidak hanya soal representasi, tetapi juga tentang memastikan setiap suara didengar, akses setara diberikan, dan ruang aman dibangun bagi semua individu untuk bertumbuh. 

Selaras dengan filosofi LifeWear, komitmen UNIQLO terhadap kesetaraan tak hanya tercermin dalam produk, tetapi juga dalam cara perusahaan memperlakukan setiap individu, baik karyawan maupun pelanggan, dengan semangat keterbukaan dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkembang secara maksimal tanpa terkecuali. UNIQLO juga mendorong perusahaan lain untuk mengambil langkah nyata. 

“Dimulai dari dukungan top management, kolaborasi lintas divisi, menggandeng partner seperti IBCWE, hingga mendengarkan suara karyawan sendiri, semua itu penting untuk menciptakan program yang relevan dan berkelanjutan,” jelas Irma.

Dengan dukungan seluruh tim dan kolaborasi lintas sektor, UNIQLO berharap bahwa perayaan International Women’s Day 2025 ini tidak hanya sekedar simbol, tetapi menjadi pengingat dan dorongan kolektif dalam membangun masa depan kerja yang lebih inklusif yang dapat senantiasa memberdayakan perempuan untuk bisa menjadi pemimpin di masa depan.