Projo mulai terang-terangan bicara soal arah politik menuju Pilpres 2029. Organisasi relawan yang dipimpin Budi Arie Setiadi itu mengaku berharap Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bisa kembali berduet untuk melanjutkan pemerintahan hingga periode kedua.
Harapan tersebut disampaikan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi ketika membahas peta politik menuju Pilpres 2029. Meski peluang keberlanjutan duet Prabowo-Gibran mulai dibicarakan, Budi Arie menilai terlalu dini untuk memastikan seperti apa pasangan maupun koalisi yang akan terbentuk tiga tahun mendatang.
"Kita mengharapkan dua periode Pak Prabowo-Gibran," ujar Budi Arie dalam perbincangan di kanal Hendri Satrio, dikutip Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Gibran Terancam Kehilangan Kursi Wapres, Prabowo Mesti Cari Dua Nama Pengganti
Pernyataan tersebut menjadi sinyal terbuka bahwa Projo masih melihat pasangan Prabowo-Gibran sebagai salah satu opsi keberlanjutan pemerintahan pada 2029. Namun, Budi Arie tidak ingin harapan tersebut dibaca sebagai keputusan politik yang sudah final.
Menurutnya, perjalanan menuju Pilpres 2029 masih panjang. Konfigurasi politik, pasangan calon, hingga peta koalisi masih dapat berubah mengikuti perkembangan situasi.
"Politik itu art of possibility. Kartunya masih dikocok, belum dibagi," katanya.
Budi Arie menilai berbagai kemungkinan masih terbuka. Termasuk soal apakah Prabowo dan Gibran akan kembali maju sebagai pasangan atau justru muncul konfigurasi politik baru menjelang kontestasi.
Situasi Pilpres 2029, menurut Budi Arie, juga berbeda dengan Pemilu 2024. Jika pada 2024 tidak ada pasangan presiden dan wakil presiden petahana yang maju untuk periode berikutnya, pada 2029 Prabowo dan Gibran berada dalam posisi sebagai pemimpin petahana yang masih memiliki hak konstitusional untuk kembali mencalonkan diri.
"2029 kan ada presiden, ada wapres yang masih memiliki hak konstitusi untuk maju," ujar Budi Arie.
Meski demikian, Budi Arie mengingatkan bahwa sejarah politik Indonesia juga menunjukkan pasangan presiden dan wakil presiden yang maju bersama untuk periode kedua belum pernah terjadi sejak pemilihan presiden secara langsung dimulai pada 2004.
Namun, ia menilai catatan sejarah tersebut bukan berarti pola yang sama pasti terulang pada 2029.
Baca Juga: Dari Mayor Teddy Hingga Bahlil, Ini Kandidat yang Siap Jadi Wapres Pengganti Jika Gibran Dipecat
"Sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak bisa terjadi. Segala sesuatu ada yang pertamanya," kata Budi Arie.
Di sisi lain, harapan Projo agar Prabowo-Gibran berlanjut tidak hanya bergantung pada kalkulasi politik. Budi Arie menyebut kinerja pemerintahan dan tingkat kepuasan masyarakat akan menjadi faktor penting.
"Kalau mau dua periode, pemerintah harus berhasil. Pemerintahan berhasil apa? Memuaskan rakyat," katanya.
Karena itu, menurut Budi Arie, sisa masa pemerintahan Prabowo-Gibran harus digunakan untuk memastikan berbagai program pemerintah berjalan dan memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat.
"Itu yang harus diperjuangkan di sisa waktunya," ujarnya.
Budi Arie juga mengingatkan bahwa keberhasilan pemerintahan bukan hanya berkaitan dengan peluang Prabowo-Gibran, tetapi dapat berdampak terhadap partai-partai politik yang berada di dalam pemerintahan.
"Ini bukan soal presiden saja. Semua pemerintah akan berdampak terhadap elektoral partai-partai pendukung," kata Budi Arie.
Dengan demikian, Projo memang sudah menyampaikan harapan agar Prabowo-Gibran dapat melanjutkan pemerintahan selama dua periode. Namun, Budi Arie sendiri menegaskan bahwa kartu politik menuju 2029 belum dibagikan.
Artinya, dukungan tersebut saat ini masih merupakan harapan politik Projo, sementara pasangan calon dan konfigurasi koalisi untuk Pilpres 2029 masih terbuka dan dapat berubah seiring perkembangan politik dalam beberapa tahun ke depan.