Nama Natalius Pigai sudah lama dikenal sebagai salah satu tokoh yang konsisten menyuarakan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Putra asli Papua ini memiliki perjalanan hidup yang penuh perjuangan.

Berawal dari aktivis mahasiswa, ia kemudian meniti karier di birokrasi, menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), hingga akhirnya dipercaya Presiden RI, Prabowo Subianto, menjabat sebagai Menteri Hak Asasi Manusia di Kabinet Merah Putih.

Di balik kiprahnya sebagai pejabat negara, Pigai juga dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan serta prinsip kuat dalam membesarkan kedua anaknya.

Dan, dikutip dari berbagai sumber, Senin (6/7/2026), berikut Olenka ulas profil Natalius Pigai selengkapnya.

Latar Belakang dan Pendidikan

Dikutip dari laman resmi Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham), Natalius Pigai lahir di Paniai, Papua, pada 25 Desember 1975. Ia tumbuh di lingkungan keluarga sederhana bersama dua saudara laki-lakinya, Yulius Pigai dan Hengky Pigai.

Pigai menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD Yogyakarta dan meraih gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan pada 1999.

Kemudian, untuk memperkuat kompetensinya, ia mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan, antara lain pendidikan statistika di Universitas Indonesia, pendidikan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta pendidikan kepemimpinan di Lembaga Administrasi Negara (LAN) pada periode 2010–2011.

Aktif Berorganisasi Sejak Mahasiswa

Semasa kuliah, Pigai telah aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Masih dikutip dari kaman Kemenham, ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Irian Jaya Yogyakarta serta Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan PMKRI pada periode 1997–1999.

Jejak Karier

Perjalanan karier Natalius Pigai tidak diraih secara instan. Dikutip dari Bangka.tribunnews.com, saat rapat perdana bersama Komisi XIII DPR pada 31 Oktober 2024, Pigai mengungkap bahwa dirinya pernah bekerja sebagai juru parkir di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) di Kalibata, Jakarta Selatan.

"Dulu di Depnakertrans, Transmigrasi Kalibata itu, saya tukang parkir, juru parkir," ungkapnya.

Ia kemudian menjadi tenaga honorer, mengikuti seleksi CPNS, diangkat menjadi PNS, hingga menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari mengantar surat dan fotokopi dokumen, menduduki jabatan struktural maupun fungsional, menjadi staf khusus, anggota Komnas HAM, hingga akhirnya dipercaya menjadi Menteri Hak Asasi Manusia.

"Jadi CPNS, CPNS jadi PNS, jadi staf antar-antar surat fotokopi. Jadi staf khusus, dapat jabatan struktural, fungsional, jadi pimpinan Komnas HAM, sekarang menteri," terang Pigai.

Selain menjadi Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada 1999–2004, Pigai juga pernah menjadi peneliti bidang migrasi internal dan internasional di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, moderator dialog politik di TVRI, konsultan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Nias, serta anggota tim asistensi Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri.

Di luar birokrasi, ia aktif sebagai peneliti di Graha Budaya Indonesia–Jepang, bergabung dengan Yayasan Sejati yang memperjuangkan hak-hak kelompok marginal, serta Yayasan Cindelaras yang bergerak di bidang pengembangan kearifan lokal dan advokasi hak-hak petani.

Kiprah di Komnas HAM dan Forum Internasional

Nama Natalius Pigai semakin dikenal ketika menjabat sebagai anggota Komnas HAM periode 2012–2017.

Dikutip dari Antaranews, selama bertugas ia dikenal vokal menyuarakan hak-hak masyarakat adat, terutama masyarakat Papua, serta mendorong penegakan HAM yang independen dan akuntabel. Pada Februari 2016, sikap tegasnya terkait pentingnya pengawasan HAM yang independen turut menjadi perhatian publik.

Tak hanya aktif di tingkat nasional, Pigai juga berkiprah di forum internasional. Ia mendorong pembentukan forum Menteri HAM di kawasan ASEAN sekaligus memperkuat kerja sama lintas negara dalam pengembangan prinsip-prinsip hak asasi manusia, pembangunan, dan pengelolaan data antarnegara.

Baca Juga: Profil Silmy Karim, Wamen Imipas yang Digelandang KPK karena Kasus Pemerasan

Menjadi Menteri Hak Asasi Manusia

Pada 21 Oktober 2024, Natalius Pigai resmi dilantik sebagai Menteri Hak Asasi Manusia dalam Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Sebagai Menteri HAM, ia mengusung berbagai agenda strategis, di antaranya pengarusutamaan perspektif hak asasi manusia dalam seluruh sektor pembangunan nasional, penyusunan draf Undang-Undang HAM yang memasukkan tindak pidana korupsi sebagai pelanggaran HAM, serta mendorong peningkatan anggaran untuk memperkuat perlindungan hak asasi manusia di Indonesia.

Penghargaan

Masih dikutip dari Antaranews, dedikasi Natalius Pigai dalam memperjuangkan hak asasi manusia mendapat apresiasi melalui penghargaan Tokoh Nasional Demokratis dan Berintegritas dari Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, pada ajang JMSI Awards 2024 di Samarinda, Kalimantan Timur, pada 16 Desember 2024 sebagai bentuk penghormatan atas konsistensinya menjaga nilai-nilai demokrasi dan HAM.

Harta Kekayaan

Selanjutnya, dikutip dari Kompas.com berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 23 Januari 2025, total kekayaan Natalius Pigai tercatat sebesar Rp4,769 miliar.

Harta tersebut terdiri atas Honda CR-V tahun 2011 senilai Rp300 juta, Jeep Wrangler Sport Renegade 4 Door 3.0 A/T tahun 2014 senilai Rp890 juta, sepeda motor Honda PCX 160 tahun 2023 senilai Rp25 juta, harta bergerak lainnya sebesar Rp70 juta, serta kas dan setara kas sekitar Rp3,484 miliar.

Kehidupan Pribadi dan Prinsip Mengasuh Anak

Di balik aktivitasnya sebagai pejabat negara, Pigai juga dikenal sebagai ayah tunggal yang memiliki prinsip tersendiri dalam membesarkan kedua anaknya.

Dikutip dari Tribun Corner Podcast, ia mengaku terinspirasi oleh pemikiran Albert Einstein bahwa tugas orang tua bukan mengajari anak secara langsung, melainkan menciptakan lingkungan yang membuat mereka nyaman untuk belajar.

"Einstein pernah bilang orang tua tidak dihadirkan untuk mendidik anak, tapi menyiapkan segala kemungkinan yang dibutuhkan anak agar mereka nyaman untuk belajar. Yang mengajar dia itu guru, buku, informasi teknologi, berita di Google. Karena itu tugas orang tua membangun pikiran humanisme di keluarga dengan cara yang demokratis," ungkap Pigai.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengaku membangun hubungan yang akrab dengan kedua anaknya, bahkan menggunakan sapaan ‘lo-gue’ saat berkomunikasi.

Tak hanya itu, meski memiliki jadwal yang padat, Pigai pun mengaku selalu berusaha pulang ke rumah setiap malam untuk tidur bersama anak-anaknya.

Ia juga membiasakan makan malam bersama keluarga serta tidak meninggalkan rumah sebelum kedua anaknya berangkat ke sekolah.

Kini, Pigai mengaku bangga karena anak pertamanya menempuh pendidikan di Amerika Serikat, sementara anak keduanya berhasil diterima di University of Tokyo melalui jalur beasiswa.

Aktif di Media Sosial

Selain aktif di dunia pemerintahan, Natalius Pigai juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyampaikan gagasan mengenai hak asasi manusia dan kemanusiaan.

Dikutip dari akun Instagram resminya, Pigai pun menuliskan deskripsi singkat yang sarat makna, yaitu, ‘Lilin kecil di tengah lorong kegelapan!’. Dan, hingga kini, akun Instagram resminya telah memiliki sekitar 53,5 ribu pengikut dengan lebih dari 700 unggahan.

Baca Juga: Profil Dante Saksono Harbuwono, Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang Kini Jabat Wakil Menteri Kesehatan