Jahja Setiaatmadja menjadi salah satu tokoh ternama di industri perbankan Tanah Air. Hal itu tak lepas dari dedikasi dan rekam jejaknya sebagai pemimpin bank swasta terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Sosok yang kini menjabat Presiden Komisaris PT Bank Central Asia Tbk (BCA) ini membagikan kisah perjalanan kariernya hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis di industri perbankan. Menurutnya, salah satu titik penting dalam perjalanan tersebut adalah ketika dirinya ditunjuk pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) untuk menjabat sebagai direktur BCA pada masa restrukturisasi perbankan pascakrisis.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja: Kalau Sudah Sukses, Jangan Pernah Tinggi Hati

Jahja mengatakan, perjalanan kariernya di dunia profesional memang berlangsung relatif cepat. Sebelum bergabung dengan BCA, ia berkarier di Kalbe Farma dan memperoleh promosi hampir setiap dua tahun hingga dipercaya menjadi Direktur Keuangan pada usia 33 tahun. Kariernya terus berkembang saat bergabung dengan BCA. Kala itu, BCA masih berada di bawah pengelolaan pemerintah setelah krisis ekonomi sehingga penunjukan direksi dilakukan oleh BPPN.

"Yang menunjuk saya menjadi direktur adalah pemerintah, BPPN pada waktu itu," pungkas Jahja, dilansir Olenka pada Senin (6/7/2026).

Di BCA, Jahja memulai karier sebagai wakil kepala divisi sebelum kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi strategis hingga akhirnya menjadi Presiden Direktur. Saat ini, ia menjabat sebagai Presiden Komisaris BCA. Meski memiliki rekam jejak karier yang impresif, Jahja menegaskan dirinya tidak pernah menjadikan jabatan sebagai tujuan utama. Baginya, yang terpenting adalah memberikan kinerja terbaik dan berkontribusi bagi perusahaan.

Baca Juga: Kenapa Pemimpin di Indonesia Tidak Punya Budaya Mundur dan Malu saat Melakukan Kesalahan?

Prinsip tersebut tercermin ketika pada 2010 Presiden Direktur BCA saat itu menyampaikan rencana untuk mengundurkan diri dan memintanya bersiap menjadi penerus. Alih-alih langsung menerima tawaran tersebut, Jahja justru meminta atasannya mempertimbangkan kembali keputusan itu. Menurutnya, kerja sama yang selama ini terjalin sudah berjalan sangat baik.

"Saya bilang, kerja sama kita sudah enak. Kalau Bapak merasa bebannya berat, bagi saja pekerjaannya ke saya. Bapak tetap sebagai Presiden Direktur, saya tetap membantu," kenangnya.

Ia menambahkan, baginya bekerja bukan sekadar mengejar jabatan, melainkan menikmati proses bekerja bersama tim dan memberikan dukungan kepada organisasi.

Beberapa hari kemudian, sang Presiden Direktur kembali memanggil Jahja dan menyampaikan bahwa dirinya telah mantap untuk mengundurkan diri dari jabatan operasional dan beralih menjadi komisaris. Setelah memastikan keputusan tersebut telah dipertimbangkan dengan matang, Jahja pun menerima amanah untuk memimpin BCA sebagai Presiden Direktur.

"Kalau itu memang keputusan Bapak, saya ambil kesempatan itu," ujar Jahja.

Pengalaman tersebut, menurut Jahja, menjadi bukti bahwa kepemimpinan lahir dari kepercayaan yang dibangun melalui konsistensi dalam bekerja, bukan semata-mata dari ambisi mengejar posisi. Selama berkarier, ia mengaku selalu berorientasi pada pencapaian kinerja dan memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan.