Karena itu, ia menyarankan investor untuk tidak mengambil keputusan secara emosional ketika pasar sedang bergejolak. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah menerapkan metode Dollar Cost Averaging (DCA).
“Kalau punya budget misalnya Rp10 juta, jangan langsung masuk semua. Bisa mulai Rp1 juta dulu, lalu kalau harga turun tambah lagi secara bertahap. Itu yang disebut dollar cost averaging. Tapi, jangan ‘panasan’, hari ini masuk sedikit lalu besok langsung masuk besar, itu biasanya recipe for disaster,” jelasnya.
Andy menilai, kondisi pasar saat ini kemungkinan sudah mendekati titik bawah siklus (bottom), sehingga strategi investasi bertahap bisa menjadi pilihan yang lebih bijak bagi investor.
Selain strategi pembelian bertahap, Timothius juga menekankan pentingnya diversifikasi portofolio, terutama ketika kondisi global sedang tidak menentu.
Menurutnya, dalam situasi geopolitik yang tegang, investor biasanya cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas atau dolar AS. Hal serupa juga terjadi di ekosistem kripto.
“Ketika terjadi kekacauan atau tensi geopolitik, biasanya investor beralih ke safe haven assets seperti emas atau dolar AS. Di kripto juga ada pendekatan yang mirip, misalnya dengan menggunakan stablecoin,” ujarnya.
Beberapa stablecoin populer seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) memiliki nilai yang dipatok terhadap dolar AS dengan rasio 1:1. Aset ini dinilai lebih stabil dibandingkan kripto yang volatil.
“Kalau kondisi pasar sedang tidak terlalu baik, mungkin ada baiknya melikuidasi sebagian aset kripto yang berisiko tinggi dan memindahkannya ke stablecoin seperti USDT atau USDC untuk diparkir sementara sebagai cadangan,” jelas Andy.
Ia juga kembali mengingatkan investor untuk tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset saja.
“Prinsipnya jangan put all eggs in one basket. Diversifikasi penting, bisa ke emas, saham global, maupun kripto dengan risiko yang berbeda,” tandas dia.
Baca Juga: PINTU Catat 1.400 Investor Kripto Masuk Segmen VIP, Ini Kriterianya