Dalam program ini, hasil panen pertama akan diprioritaskan sebagai benih untuk penanaman berikutnya oleh petani yang didampingi Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Sementara itu, FKS Foundation akan melakukan penyerapan hasil panen kedua untuk mendukung keberlanjutan usaha tani dan membuka peluang pasar.

Perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream menyampaikan bahwa pengembangan kedelai memerlukan peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat, dan perencanaan penanaman secara berkelanjutan.

“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan. Melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” katanya.

Keberlanjutan produksi kedelai juga berkaitan dengan kebutuhan pelaku usaha di hilir. Bagi pengrajin tahu dan tempe, ketersediaan bahan baku dengan kualitas konsisten diperlukan untuk menjaga produksi dan memenuhi permintaan konsumen.

Nurwito, pengrajin tempe yang menjalankan usaha sejak 2014, membutuhkan sekitar 50–80 kilogram kedelai setiap hari.

“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari. Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting agar kami bisa terus memproduksi tempe, memenuhi kebutuhan keluarga kami, dan juga kebutuhan konsumen,” ujarnya.

Dokumentasi transaksi pembelian kedelai pada pekan ketiga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat harga sekitar Rp11.050–Rp11.300 per kilogram, belum termasuk biaya transportasi dari lahan ke gudang.

Di Semarang, harga tercatat berkisar Rp11.050–Rp11.200 per kilogram. Sementara itu, di Solo, Yogyakarta, Purwokerto, dan sejumlah wilayah Jawa Tengah lainnya, harga berada pada kisaran Rp11.200–Rp11.300 per kilogram.

Data tersebut menunjukkan harga transaksi di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Bagi petani dan pengrajin, kepastian pasokan dan kualitas bahan baku menjadi faktor penting selain harga.

Kolaborasi antara petani, pengrajin, Ustad Ari Handoko, PTPN IV, FKS Foundation, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat memperkuat pengembangan kedelai lokal. Upaya ini sekaligus diarahkan untuk mendukung keberlanjutan usaha petani dan pengrajin tahu-tempe.

Dengan menghubungkan budidaya, penyerapan hasil panen, dan kebutuhan bahan baku, pengembangan ekosistem kedelai diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan bagi seluruh pihak yang terlibat.