Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) menekankan bahwa kualitas tandan buah segar (TBS) menjadi salah satu faktor yang menentukan harga sawit yang diterima pekebun.

Di Bengkulu, kualitas TBS yang dinilai belum optimal disebut menjadi salah satu alasan harga masih lebih rendah dibandingkan provinsi tetangga.

Baca Juga: AKPY: Kompetensi Petani Sawit Perlu Ditingkatkan untuk Hadapi Kesenjangan Produktivitas Terbuka

Mempertimbangkan kondisi tersebut, AKPY mendorong penguatan kemampuan pekebun agar mampu menghasilkan TBS yang lebih berkualitas.

Maka dari itu, AKPY mengajak hingga 156 pekebun dari Mukomuko dan Bengkulu Utara mengikuti Pelatihan Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar atas kerja sama dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, mengatakan kualitas TBS berpengaruh langsung terhadap nilai jual yang diterima pekebun.

Baca Juga: AKPY Bersama BPDP dan Ditjenbun Dorong 298 Pekebun di Kabupaten Paser Tingkatkan Produktivitas Sawit

“Masih banyak permasalahan di lapangan. Harga TBS kita lebih rendah dari provinsi tetangga karena diklaim perusahaan pembeli bahwa kualitas kita belum sebagus di provinsi tetangga,” ungkapnya saat membuka pelatihan di Bengkulu, dikutip pada Rabu (2/9/2026). 

Menurut Sri Herlin, TBS berkualitas tidak dihasilkan hanya dengan memperbaiki cara panen. Kualitas ditentukan sejak tanaman dibudidayakan, dipelihara, hingga buah dipanen pada tingkat kematangan yang tepat dan segera ditangani dengan baik setelah panen.

Artinya, semakin baik mutu TBS yang dihasilkan, semakin besar peluang pekebun mendapatkan harga yang lebih baik. Sebaliknya, kualitas buah yang rendah dapat mengurangi nilai jual dan pada akhirnya berdampak pada pendapatan pekebun.

“Dengan tujuan menghasilkan TBS yang memiliki kualitas baik akan memperoleh harga yang baik pula,” katanya.

Pengalaman Perlu Diperkuat Data

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan pengalaman merupakan modal penting bagi pekebun. Namun, pengalaman perlu diperkuat dengan data, teori, dan praktik teknis agar keputusan pengelolaan kebun semakin tepat.

“Bukan berarti kami lebih baik. Bapak Ibu semua ini pengalamannya juga lebih banyak. Nanti ditambah dengan data, dengan teori, insyaallah akan menjadi semakin lebih baik dan semakin berkembang,” ujarnya.

Menurut Dr. Idum, pelatihan SDMP tidak bertujuan menggantikan pengalaman pekebun, tetapi membantu mereka mengambil keputusan berdasarkan pengetahuan dan kondisi nyata di lapangan.

Pelatihan mencakup pembelajaran di kelas, praktik lapangan, dan field trip. Materi tersebut diharapkan dapat membantu pekebun memperbaiki budidaya sekaligus meningkatkan kualitas TBS yang dihasilkan.

Pelatihan diikuti 47 pekebun Mukomuko untuk teknis budidaya, 29 peserta untuk teknis panen dan pascapanen, serta 80 pekebun Bengkulu Utara untuk teknis budidaya.

Sri Herlin berharap peserta langsung menerapkan ilmu yang diperoleh dan membagikannya kepada pekebun lain.

“Kami harap 156 orang ini dapat kembali dari pelatihan dan menerapkan ilmu yang diperoleh di daerah masing-masing,” ujarnya.

Perbaikan budidaya, panen, dan pascapanen juga penting untuk mendukung penerapan standar keberlanjutan, termasuk Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Dengan meningkatkan kualitas TBS dari kebun hingga pascapanen, pekebun Bengkulu diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperbaiki posisi tawar dan memperoleh harga jual yang lebih baik. Pada akhirnya, kualitas TBS yang meningkat diharapkan berujung pada peningkatan pendapatan pekebun.