Tak hanya itu, dr. Bobby menjelaskan bahwa aktivitas seksual juga termasuk aktivitas fisik yang secara alami meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Pada individu dengan penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah koroner, aktivitas seksual yang dilakukan dalam kondisi emosional yang sangat tegang dapat menjadi pemicu terjadinya serangan jantung.
"Selain itu, aktivitas seksual sendiri merupakan aktivitas fisik yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah koroner, aktivitas seksual yang dilakukan dalam kondisi emosi yang sangat tegang, misalnya karena takut ketahuan, dapat menjadi pemicu serangan jantung, meskipun kejadiannya relatif jarang," beber dr. Bobby.
Sebaliknya, lanjut dia, hubungan yang sehat dan harmonis justru memberikan manfaat bagi kesehatan secara menyeluruh.
Menurutnya, hubungan yang dilandasi komitmen, rasa saling percaya, dan dukungan emosional diketahui berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, serta penurunan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, kata dr. Bobby, menjaga hubungan yang sehat bukan hanya berdampak pada keharmonisan pasangan, tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan jantung dalam jangka panjang.
"Menjaga kesetiaan bukan hanya soal nilai moral dan agama, tetapi juga dapat membantu menjaga ketenangan pikiran, kualitas hidup, dan kesehatan jantung. Jantung yang sehat juga membutuhkan hati yang tenang," tutup dr. Bobby.
Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta