Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah merespons pernyataan Praktisi Intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra yang menyebut eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah adalah algojo bringas peliharaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menekuk lawan politiknya lewat kasus korupsi. 

Deputi III Bakom Kurnia Ramadhana, dengan tegas membantah pernyataan itu, menurutnya itu terlalu dangkal sebab upaya penegakan hukum dan melawan korupsi yang dilakukan pemerintah tidak hanya mengandalkan kemampuan satu orang saja, itu dilakukan Kejaksaan Agung sebagai sebuah institusi penegak hukum. 

Baca Juga: KPK Soroti Tim 9 Bentukan Kejagung yang Tangani Kasus Febrie Adriansyah

"Tadi disebut ada diksi algojo pemberantasan korupsi di Kejaksaan Agung. Dan pemerintah menganggap, algojo di Kejaksaan Agung itu bukan satu orang. Algojo pemberantasan korupsi di Kejaksaan Agung adalah 12.000 orang jaksa di seluruh Indonesia," kata Kurnia di saluran YouTube Rakyat Bersuara dilansir Olenka.id Kamis (16/7/2026). 

Kurnia kembali menegaskan, penegakan hukum dan upaya pemberantasan korupsi dilakukan secara kolektif oleh setiap lembaga hukum baik itu Kejagung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun Polri. Negara sama sekali tidak menyandarkan harapan hanya pada satu orang saja. 

"Jadi kerja kolektif ini yang kami yakini tidak akan berhenti siapa pun pimpinannya, siapa pun Jampidsusnya, siapa pun Jaksa Agung-nya," ujarnya.

Lebih lanjut Kurnia menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bakal terus melawan korupsi, para pejabat yang menyeleweng dan menyalahgunakan kekuasaan macam Febrie Adriansyah bakal dilawan dihukum berat. 

"Akan dilawan terus-menerus oleh Presiden Prabowo Subianto," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui,  Praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Candra mengatakan, Febrie adalah algojo bringas yang pelihara Jokowi untuk memuluskan sejumlah agenda politiknya termasuk saat ingin merebut Partai Golkar. 

Namun Febrie juga dihabisi sendiri oleh Jokowi lewat Polri dalam berbagai kasus hukum yang terungkap belakangan ini.  Jokowi menghabisi Febrie lantaran yang bersangkutan disebut mulai belok haluan, ia mulai merapat ke pemerintahan Prabowo Subianto. Jokowi membaca itu sebagai ancaman. 

"Itulah makanya yang membuat resah Pak Jokowi. Artinya apa? Semacam kalau di sisi Pak Jokowi mungkin ini berkhianat nih orang kan. Dulu memang betul bahkan dialah (Febrie) algojo yang paling beringas. Contoh dalam kasus Asabri dan Jiwasraya gitu kan. Itu sangat kental sekali nuansa kepentingan politiknya di mana Jokowi ingin mengambil alih Partai Golkar di Jiwasraya," ujarnya.

Baca Juga: Jangan Kaget! Ini Anggota Tim 9 yang Tangani Kasus Febrie Adriansyah, Ternyata…

"Persoalannya sekarang dianggap mungkin Pak Febrie sebagai pengkhianat gitu loh akhirnya. Dan Jokowi tahu bahwa begitu beringas Febrie kalau dia menangani persoalan hukum apalagi berdasarkan pesanan kekuasaan ya, terlepas dari persoalan hukum yang yang dihadapkan oleh Febri," bebernya.