Momentum Lebaran identik dengan kebersamaan, hidangan khas yang menggugah selera, serta aktivitas silaturahmi yang padat.
Namun, di balik suasana hangat tersebut, terdapat risiko kesehatan yang kerap terabaikan, yakni meningkatnya kasus serangan jantung setelah Idulfitri.
Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar SpJP(K)., menjelaskan bahwa lonjakan kasus ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai perubahan signifikan dalam pola makan dan gaya hidup selama Lebaran.
Menurutnya, konsumsi makanan khas Lebaran yang umumnya tinggi lemak, gula, dan garam menjadi salah satu faktor utama.
“Konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam seperti santan, daging berlemak, serta kue manis dapat meningkatkan kadar kolesterol, tekanan darah, dan gula darah, yang merupakan faktor risiko utama penyakit jantung,” ungkap dr. Bobby, dikutip dari Instagram pribadinya @dr.bobbyjantung, Kamis (2/4/2026).
dr. Bobby menambahkan bahwa kondisi ini semakin diperparah dengan kebiasaan makan berlebihan setelah sebulan menjalani pola makan yang lebih teratur selama Ramadan.
“Setelah pola makan teratur selama Ramadan, banyak orang cenderung overeating saat Lebaran. Ini dapat membebani kerja jantung dan meningkatkan risiko serangan jantung,” jelasnya.
Tak hanya soal jenis dan jumlah makanan, kata dr. Bobby, kurangnya asupan serat dari buah dan sayur juga berkontribusi terhadap menurunnya kesehatan jantung.
Di sisi lain, perubahan gaya hidup selama libur Lebaran turut memperbesar risiko. Aktivitas fisik yang menurun karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk berkumpul dan makan bersama membuat tubuh menjadi kurang bergerak.
“Selama libur Lebaran, aktivitas fisik sering berkurang karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk makan dan bersilaturahmi. Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung,” kata dr. Bobby.
Baca Juga: Dokter Spesialis Ungkap Cara Aman Mengoptimalkan Tinggi Badan Anak Sejak Dini