Growthmates, perselingkuhan tidak hanya berisiko merusak hubungan dan kesehatan mental, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan jantung.
Menurut Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi di RS Hermina Depok, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), terdapat penjelasan ilmiah mengapa hubungan rahasia dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung pada sebagian orang.
Menurut dr. Bobby, seseorang yang menjalani perselingkuhan umumnya hidup dalam tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus.
Rasa takut ketahuan, kecemasan, rasa bersalah, hingga kebiasaan menutupi kebohongan membuat tubuh berada dalam kondisi stres kronis.
"Saat seseorang menjalani hubungan rahasia, tubuh sering berada dalam keadaan stres kronis. Ada rasa takut ketahuan, cemas, bersalah, dan harus terus berbohong. Kondisi ini meningkatkan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol," jelas dr. Bobby, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Kamisa (16/7/2026).
Dijelaskan dr. Bobby, peningkatan hormon stres tersebut memicu berbagai perubahan pada tubuh yang berhubungan langsung dengan kesehatan kardiovaskular.
Tekanan darah dapat meningkat, denyut jantung menjadi lebih cepat, peradangan dalam tubuh ikut bertambah, kualitas tidur menurun, hingga risiko terjadinya gangguan irama jantung menjadi lebih tinggi.
Kondisi tersebut, kata dia, apabila berlangsung dalam waktu lama, dapat memberikan beban tambahan bagi sistem kardiovaskular, terutama pada orang yang memang sudah memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Kepanasan, Dokter Spesialis Jantung Ingatkan Heat Stroke Bisa Berujung Kematian
Tak hanya itu, dr. Bobby menjelaskan bahwa aktivitas seksual juga termasuk aktivitas fisik yang secara alami meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
Pada individu dengan penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah koroner, aktivitas seksual yang dilakukan dalam kondisi emosional yang sangat tegang dapat menjadi pemicu terjadinya serangan jantung.
"Selain itu, aktivitas seksual sendiri merupakan aktivitas fisik yang meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung atau penyempitan pembuluh darah koroner, aktivitas seksual yang dilakukan dalam kondisi emosi yang sangat tegang, misalnya karena takut ketahuan, dapat menjadi pemicu serangan jantung, meskipun kejadiannya relatif jarang," beber dr. Bobby.
Sebaliknya, lanjut dia, hubungan yang sehat dan harmonis justru memberikan manfaat bagi kesehatan secara menyeluruh.
Menurutnya, hubungan yang dilandasi komitmen, rasa saling percaya, dan dukungan emosional diketahui berkaitan dengan tingkat stres yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih baik, serta penurunan risiko penyakit kardiovaskular.
Karena itu, kata dr. Bobby, menjaga hubungan yang sehat bukan hanya berdampak pada keharmonisan pasangan, tetapi juga berkontribusi terhadap kesehatan jantung dalam jangka panjang.
"Menjaga kesetiaan bukan hanya soal nilai moral dan agama, tetapi juga dapat membantu menjaga ketenangan pikiran, kualitas hidup, dan kesehatan jantung. Jantung yang sehat juga membutuhkan hati yang tenang," tutup dr. Bobby.
Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta