Ketiga, pada Selasa (7/7/2026), Prabowo bertemu dengan Perdana Menteri India Narendra Modi sehari kemudian. Bersama India, Indonesia tidak hanya memperkuat kemitraan di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang pendidikan, penguatan kelembagaan, serta hubungan antarmasyarakat.
Menurut lulusan Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (UNPAD) tersebut, keberhasilan diplomasi tidak hanya diukur dari kemampuan membangun persepsi positif, tetapi juga dari kemampuan menerjemahkannya menjadi hasil yang nyata.
Fariza menilai Danantara Indonesia di bawah kepemimpinan CEO Rosan P. Roeslani menjadi instrumen penting dalam mengimplementasikan berbagai peluang yang lahir dari diplomasi Presiden Prabowo.
"Komunikasi yang dibangun Presiden Prabowo kemudian diterjemahkan menjadi langkah konkret oleh Danantara. Di bawah kepemimpinan Pak Rosan Roeslani, berbagai peluang kerja sama dan investasi yang lahir dari komunikasi internasional tersebut mulai ditindaklanjuti secara profesional, cepat, dan terukur," ujarnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan Rosan menunjukkan bagaimana kepercayaan internasional dapat dikonversi menjadi penguatan tata kelola dan peningkatan kinerja badan usaha milik negara (BUMN) pasca reformasi oleh Danantara.
Menurut Fariza, sinyal positif tersebut semakin terlihat setelah Danantara menerima kunjungan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair bersama jajaran Tony Blair Institute for Global Change (TBI) untuk membahas kolaborasi dalam percepatan transformasi BUMN, peningkatan investasi, dan pembangunan nasional.
Sebelumnya, CEO Danantara Rosan P. Roeslani menyatakan tingginya minat investor yang disampaikan Tony Blair menunjukkan bahwa Indonesia semakin menjadi salah satu tujuan utama investasi global.
"Minat tinggi investor yang disampaikan Tony Blair dalam kunjungannya menegaskan bahwa Indonesia berada di radar utama investor global," ucap CEO Danantara Rosan Roeslani dalam keterangan resmi, Rabu (8/7/2026).
Fariza juga mengapresiasi langkah Danantara mengembangkan 26 proyek hilirisasi strategis nasional dengan nilai investasi mencapai Rp225 triliun yang diproyeksikan menyerap 37.833 tenaga kerja. Proyek tersebut mencakup pembangunan smelter aluminium, baja nirkarat, dan tembaga, serta pengembangan bioavtur, bioetanol, industri pengolahan kelapa sawit, industri kelapa, hingga peternakan ayam terintegrasi.
"Percepatan proyek-proyek hilirisasi strategis yang diinisiasi Danantara merupakan langkah penting dalam memperkuat struktur industri nasional. Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, proyek-proyek tersebut juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat luas," tutup Fariza.