Growthmates, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bulu kuduk bisa berdiri ketika merasa takut? Sensasi merinding kerap dikaitkan dengan firasat atau kemampuan merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
Namun, dari sisi medis, fenomena tersebut merupakan respons biologis tubuh yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Ahli neurologi (saraf) sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, menjelaskan, merinding dikenal dalam dunia medis sebagai piloerection. Kondisi ini terjadi ketika bulu-bulu halus pada kulit berdiri akibat kontraksi otot kecil yang berada di pangkal rambut.
Respons tersebut dikendalikan oleh sistem saraf otonom dan berlangsung tanpa disadari. Menurut dr. Yeni, merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari manusia terdahulu. Meski fungsi awalnya kini tidak lagi terlalu relevan, mekanisme saraf yang mengaturnya masih tetap aktif.
“Merinding merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh yang diwariskan dari nenek moyang manusia. Meskipun fungsi aslinya sudah tidak terlalu relevan, jalur saraf yang mengaturnya masih aktif hingga sekarang,” jelas dr. Yeni, dikutip dari laman IPB University, Rabu (23/9/2026).
Dalam proses tersebut, otak memiliki peran penting, khususnya amigdala yang merupakan bagian otak yang terlibat dalam pengolahan emosi dan bekerja sebagai salah satu sistem alarm tubuh. Ketika otak mendeteksi sesuatu yang dianggap penting, mengejutkan, mengancam, atau bahkan mengagumkan, tubuh dapat merespons dengan melepaskan adrenalin.
Respons tubuh terhadap pelepasan adrenalin tidak hanya berupa peningkatan denyut jantung atau kewaspadaan, tetapi juga dapat memicu merinding. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa seseorang bisa lebih mudah mengalami sensasi tersebut ketika sedang cemas atau berada dalam tekanan.
Baca Juga: Benarkah Makan Banyak Telur Menyebabkan Bisul? Ahli Gizi Jelaskan Faktanya