Growthmates, penyakit autoimun menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus mendapat perhatian. Secara global, sekitar 10 persen populasi atau 1 dari 10–15 orang diperkirakan mengalami penyakit autoimun. Sejumlah penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, dan diabetes tipe 1, juga menunjukkan tren peningkatan prevalensi.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, persentase penderita autoimun diperkirakan berada di kisaran 3–5 persen. Sekitar 80 persen penderitanya merupakan wanita. Peningkatan kasus juga diperkirakan terus terjadi seiring urbanisasi dan perubahan lingkungan.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, menuturkan, penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali sel atau jaringan sehat sebagai sesuatu yang berbahaya.
Kondisi tersebut dapat memicu terbentuknya autoantibodi yang kemudian menyebabkan peradangan dan berpotensi merusak organ tubuh.
“Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas,” jelas Prof. Ronny, dikutip dari laman IPB University, Senin (21/9/2026).
Menurut Prof. Ronny, penyakit autoimun memiliki lebih dari 100 jenis dengan gejala dan organ yang terdampak berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah rheumatoid arthritis, lupus, myositis, psoriasis, vitiligo, dan skleroderma.
Pada sistem pencernaan, terdapat penyakit Crohn, penyakit celiac, dan kolitis ulseratif. Sementara pada gangguan hormonal, beberapa jenis yang dikenal antara lain diabetes tipe 1, Hashimoto, dan Graves.
Adapun, gangguan pada sistem saraf dapat berupa multiple sclerosis dan myasthenia gravis.
Wanita diketahui memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami sejumlah gangguan autoimun. Prof. Ronny menjelaskan, kondisi tersebut berkaitan dengan kombinasi faktor genetik, hormon seperti estrogen dan progesteron, serta respons sistem kekebalan tubuh.
Menurutnya, sistem imun yang aktif memiliki peran penting dalam menjaga tubuh, termasuk selama kehamilan. Namun, pada kondisi tertentu, respons imun yang kuat juga dapat meningkatkan risiko sistem kekebalan keliru menyerang jaringan tubuh sendiri.
“Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan,” kata Prof. Ronny.
Baca Juga: Dokter Tirta Ungkap Autoimun Tak Bisa Sembuh Total, Ini Kunci Mengendalikan Gejalanya