Meskipun tergolong sebagai penyakit genetik, thalasemia ternyata merupakan kondisi yang dapat dicegah lewat deteksi dini. Sayangnya, pemahaman masyarakat awam terhadap kelainan darah bawaan ini masih tergolong rendah, sehingga edukasi dan skrining secara masif terus digalakkan.

Kesadaran dan pencegahan thalasemia menjadi sorotan utama dalam Seminar dan Kuliah Umum Interprofessional Education (IPE) bertajuk Thalasemia & Skrining Thalasemia dan Kesehatan Pra Nikah yang diinisiasi oleh PT Prodia Widyahusada Tbk bersama Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Kegiatan yang diikuti oleh 1.000 mahasiswa ini juga diisi dengan pemeriksaan darah atau skrining thalassemia gratis bagi para peserta.

Mengenal Thalasemia dan Alasan Deteksi Dini Itu Penting

Thalasemia adalah penyakit genetik akibat gangguan pembentukan rantai globin pada hemoglobin. Karena diturunkan secara genetik dan bukan penyakit menular, langkah deteksi dini memegang peranan krusial untuk mengetahui apakah seseorang merupakan pembawa sifat (carrier) atau bukan.

  • Kasus di Wilayah Banyumas: Berdasarkan data, wilayah Banyumas tercatat memiliki kasus thalasemia yang cukup tinggi dengan sekitar 450 pasien dalam perawatan, serta sekitar 8% masyarakatnya diidentifikasi sebagai pembawa sifat thalassemia.
  • Kurangnya Pengetahuan: Sebuah studi terhadap kalangan usia produktif menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat (61,5%) masih memiliki pengetahuan yang kurang mengenai thalasemia.
  • Tanpa Gejala: Pembawa sifat thalassemia umumnya terlihat sehat, bugar, dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit, sehingga banyak orang yang tidak menyadari kondisi tersebut tanpa melakukan tes darah.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Skrining Thalasemia?

Banyak orang mengira pemeriksaan status pembawa sifat thalasemia baru perlu dilakukan menjelang pernikahan. Padahal, para ahli menyarankan agar pemeriksaan ini dilakukan lebih awal sebelum memasuki usia pernikahan guna mengantisipasi risiko secara lebih matang.

Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti UMP, program skrining ini diharapkan dapat membangun kesadaran generasi muda sejak dini, bahkan sebelum muncul keluhan kesehatan, sehingga mereka dapat merencanakan masa depan yang lebih sehat.

Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Bedanya Darah Rendah dan Kurang Darah Menurut Dokter Ahli

Peran Generasi Muda sebagai Agen Perubahan

Peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat membutuhkan sinergi dari berbagai pihak, termasuk dunia kampus dan sektor swasta. Melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang telah berjalan sejak 2010 ini, Prodia menargetkan ribuan mahasiswa untuk tidak hanya mendapatkan manfaat skrining secara langsung, tetapi juga menjadi agent of change.

Dengan pengetahuan yang diperoleh, para mahasiswa diharapkan mampu meneruskan informasi penting ini kepada keluarga, sahabat, dan lingkungan sekitar demi menekan angka kasus thalasemia di masa depan.