Selain mendukung proses produksi, NextSense juga menghadirkan solusi Smart Agriculture yang memanfaatkan berbagai sensor untuk memantau kondisi lahan secara presisi.
Sensor tersebut mampu mengukur kelembapan tanah dan kandungan nutrisi sehingga sistem dapat memberikan rekomendasi mengenai waktu irigasi maupun pemupukan yang lebih tepat sesuai kebutuhan tanaman.
"Melalui Smart Agriculture, kami bisa mengukur kelembapan tanah dan tingkat nutrisi tanah. Dari situ sistem memberikan informasi kapan irigasi dibutuhkan, tidak berlebihan maupun kekurangan, sekaligus membantu memaksimalkan penggunaan pupuk sesuai kebutuhan tanaman," jelas Agustian.
Teknologi tersebut juga memonitor infrastruktur pendukung seperti reservoir air, pompa irigasi, hingga performa mesin menggunakan sensor getaran dan RPM. Dengan begitu, potensi kerusakan dapat dideteksi lebih dini sebelum mengganggu aktivitas operasional.
Agustian kemudian memaparkan, salah satu keunggulan NextSense adalah penerapan teknologi machine learning untuk membaca pola data yang berasal dari ribuan sensor di lapangan. Analisis tersebut menghasilkan insight yang dapat digunakan perusahaan untuk melakukan langkah preventif sebelum terjadi gangguan produksi.

"Kami menerapkan model machine learning untuk membaca pola data dari sensor menjadi tren yang bisa memberikan insight kepada pengguna, misalnya memprediksi kerusakan mesin atau penurunan kualitas CPO sebelum benar-benar terjadi," tutur Agustian.
Menurutnya, penerapan AI saat ini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan bagi industri yang ingin meningkatkan produktivitas dan daya saing.
"AI sudah bukan hal yang mewah. Teknologi ini sudah menjadi sesuatu yang umum dan sudah saatnya semua industri memanfaatkan machine learning untuk meningkatkan produktivitas," tegasnya.
Meski banyak difokuskan pada sektor kelapa sawit, NextSense dikembangkan sebagai platform yang bersifat modular dan vendor-agnostic sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai perangkat sesuai kebutuhan pengguna.
Agustian menjelaskan bahwa solusi ini tidak hanya dapat diterapkan di sektor agrikultur, tetapi juga di industri manufaktur, gedung komersial, energi, hingga pengelolaan utilitas dan limbah.
"NextSense didesain sebagai solusi untuk semua industri. Energy intelligent, utility, maupun pengolahan limbah bisa diterapkan di berbagai sektor, bukan hanya agrikultur," ungkapnya.
Saat ini, NextSense telah digunakan oleh sejumlah perusahaan swasta di industri kelapa sawit maupun kelapa.
Seluruh sistem bekerja melalui integrasi sensor, perangkat pembaca data, telematika, komunikasi satelit, hingga cloud server yang menghasilkan monitoring real-time serta kemampuan early detection terhadap potensi gangguan.
Ke depan, PT Sinergi Teknologi Solusindo menargetkan NextSense menjadi salah satu penggerak percepatan digitalisasi industri agrikultur nasional. Meski edukasi mengenai transformasi digital masih menjadi tantangan, perusahaan optimistis tingkat adopsi teknologi akan terus meningkat.
"Kami ingin industri agrikultur Indonesia menjadi lebih terdigitalisasi agar mampu bersaing secara global. Tantangan terbesar memang mengedukasi pelaku industri mengenai pentingnya digitalisasi, tetapi kami optimistis karena kesadaran terhadap teknologi terus meningkat," pungkas Agustian.
Baca Juga: Mengoptimalkan Potensi Sawit sebagai Sumber Energi Terbarukan