Sebagian masyarakat memiliki persepsi bahwa hasil produksi sawit yang melimpah akan selaras dengan pendapatan yang lebih besar. Namun faktanya, nilai tandan buah segar (TBS) sawit justru banyak ditentukan oleh satu tahapan yang sering dianggap sederhana: panen dan penanganan buah setelah dipetik.
Menyadari hal tersebut, Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) mendorong para petani atau pekebun untuk mengoptimalkan panen dalam mendapatkan nilai sawit yang lebih tinggi. Hal tersebut ditegaskan melalui Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Kelapa Sawit yang diikuti 60 pekebun asal Kabupaten Seluma.
Baca Juga: BPDP, Dirjenbun, dan DGL Ajak 142 Pekebun Bengkulu Tengah Belajar Langsung ke Perkebunan Sawit
Kegiatan berlangsung pada 20–24 Agustus 2026 sebagai bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) 2026 yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun).
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Dr. Idum Satia Santi, menegaskan bahwa kehilangan pendapatan pekebun sering kali bukan disebabkan rendahnya produksi, melainkan kesalahan saat panen dan pascapanen.
“Sering kali kehilangan pendapatan petani bukan karena produksinya rendah, tetapi karena kesalahan dalam proses panen dan pascapanen,” ungkap Idum dalam keterangan resmi yang diterima Olenka pada Selasa (25/8/2026).
Baca Juga: Sawit Dinilai Berpotensi Penuhi 60% Kebutuhan Minyak Nabati Dunia pada 2050
Menurut Idum, buah yang dipanen pada tingkat kematangan tepat, brondolan yang dikumpulkan dengan baik, serta pengiriman TBS yang cepat ke pabrik akan menjaga mutu buah dan meningkatkan rendemen minyak.
Kualitas Menentukan Harga
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Sri Herlin Despita, mengatakan bahwa peningkatan kualitas SDM pekebun menjadi kunci karena lebih dari 75 persen dari sekitar 426 ribu hektare kebun sawit di Bengkulu merupakan perkebunan rakyat. Ia berharap ilmu dari pelatihan dapat langsung diterapkan agar mutu TBS meningkat dan harga jual ikut terdongkrak.
“Kami berharap Bapak-Ibu bisa meningkatkan kualitas TBS sehingga harga juga bisa meningkat,” katanya.
Sri juga mengingatkan bahwa praktik panen dan pascapanen yang baik menjadi bagian penting dalam memenuhi tuntutan keberlanjutan, termasuk sertifikasi ISPO.
Lebih lanjut, bagi pekebun panen bukan lagi sekadar memotong tandan. Setelah buah lepas dari pohon, kualitasnya masih ditentukan oleh cara pengumpulan, penanganan, hingga kecepatan pengangkutan ke pabrik. Oleh karena itu, AKPY mendorong peserta tidak berhenti pada sertifikat pelatihan, tetapi menerapkan ilmunya di kebun dan membagikannya kepada pekebun lain.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, pun berpesan agar peserta menjadikan pelatihan sebagai bekal nyata untuk meningkatkan kualitas sawit di daerahnya.
“Ambil ilmu ini supaya bisa dimanfaatkan di tempat tinggal kita masing-masing,” ujarnya.
Pada akhirnya, keberhasilan sawit rakyat tidak hanya diukur dari banyaknya buah yang dipanen, tetapi dari kemampuan menjaga kualitas setiap kilogram TBS hingga bernilai maksimal di pasar.