Oleh: Edi Suhardi, Analis Keberlanjutan
Sektor kelapa sawit Indonesia kembali memasuki fase ujian daya tahan sebagai salah satu industri strategis nasional. Setelah beberapa tahun bergulat dengan dinamika geopolitik global, fluktuasi harga, dan perubahan kebijakan di dalam negeri, kini tantangan lain muncul dari faktor alam.
Fenomena El Nino yang diproyeksikan akan memicu musim kemarau panjang hingga awal 2027, membawa konsekuensi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dampak kekeringan mulai terasa di sektor perkebunan dan berpotensi merambat ke berbagai sendi kehidupan, mulai dari kesehatan, hingga aspek social ekonomi masyarakat.
Bagi industri kelapa sawit, ancamannya bahkan bersifat multidimensi. Risiko kebakaran perkebunan meningkat, stigma sebagai penyebab kebakaran hutan kembali mengemuka, dan yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan sistemik produktivitas sawit nasional.
Dalam industri minyak kelapa sawit mentah (CPO), iklim bukan sekadar faktor pendukung, melainkan penentu utama produktivitas. Secara biologis, tanaman kelapa sawit memiliki karakteristik lagged effect atau efek tunda. Stres air akibat kekeringan berkepanjangan tidak serta-merta menurunkan produksi ketika kemarau berlangsung.
Dampaknya baru terlihat pada proses pembungaan dan pembentukan buah sekitar 9 hingga 24 bulan kemudian. Dengan kata lain, apabila El Nino menguat pada pertengahan 2026, penurunan produksi nasional baru akan terasa sepanjang 2027.
Karena itu, pemerintah bersama dunia usaha dan masyarakat, perlu memahami potensi dampak kekeringan melalui penelusuran rekam jejak historis serta pemetaan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang selalu mengiringi siklus El Nino.
Pemahaman tersebut diharapkan menjadi dasar untuk merumuskan paket kebijakan yang mampu memperkuat daya tahan pekebun swadaya maupun perusahaan dalam menghadapi tantangan iklim yang semakin kompleks.
Sejarah mencatat, ketahanan industri sawit Indonesia telah berulang kali diuji oleh fenomena El Nino. Setiap siklus menghadirkan tantangan berbeda, sekaligus meninggalkan pelajaran penting bagi pengelolaan industri ke depan.
Gelombang El Nino 1997–1998 menjadi salah satu episode paling berat. Kombinasi cuaca ekstrem dan praktik pembukaan lahan yang ketika itu belum tertata memicu kebakaran besar di Sumatra dan Kalimantan. Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lingkungan.
Produktivitas tandan buah segar (TBS) pada tahun berikutnya tercatat turun sekitar 15–20 persen. Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik balik lahirnya berbagai kebijakan pengendalian kebakaran, termasuk penerapan zero burning policy yang hingga kini menjadi salah satu prinsip utama dalam pengelolaan perkebunan sawit berkelanjutan.
Gelombang El Nino berikutnya kembali mengingatkan industri sawit pada besarnya risiko yang menyertai perubahan iklim. Pada 2015, kebakaran lahan gambut berskala luas kembali terjadi dan menahan laju produksi CPO nasional pada 2016 hingga menyusut sekitar 3–5 persen.
Ketika El Nino kembali muncul pada 2023, kapasitas mitigasi sebenarnya telah jauh berkembang. Sistem pemantauan berbasis satelit, penguatan koordinasi antarlembaga, serta penegakan hukum yang lebih konsisten mampu menekan risiko kebakaran hutan dan lahan dibandingkan periode sebelumnya.
Namun, satu persoalan tetap tidak berubah: stres air akibat kemarau panjang berdampak pada stagnasi pertumbuhan produksi sawit nasional sepanjang 2024.
Pengalaman dari tiga siklus El Nino tersebut memperlihatkan pola yang sama. Setiap kali kekeringan ekstrem terjadi, produksi sawit nasional selalu mengalami tekanan, baik secara langsung maupun melalui efek tunda.
Risiko yang paling perlu diwaspadai adalah meningkatnya potensi karhutla. Asap pekat yang dihasilkan juga mengurangi intensitas sinar matahari yang dibutuhkan tanaman untuk berfotosintesis, mengganggu proses pembentukan buah, serta menurunkan efektivitas penyerbukan alami.
Baca Juga: Mendobrak Kebuntuan Penanganan Karhutla dan Asap