Naik tangga dalam beberapa lantai memang bisa membuat napas terengah-engah, terutama jika tubuh jarang berolahraga. Namun, jika sesak terasa berlebihan meski aktivitas yang dilakukan tergolong ringan dan terus berulang, kondisi tersebut sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai tanda tubuh kurang fit.

Keluhan sesak saat beraktivitas bisa berkaitan dengan berbagai kondisi, termasuk gangguan pada jantung. Salah satunya adalah aritmia atau gangguan irama jantung.

Spesialis jantung dan pembuluh darah dr Budi Ario Tejo, SpJP(K), dari Siloam Hospitals TB Simatupang mengatakan sesak napas ketika melakukan aktivitas ringan seperti naik tangga tidak serta-merta menunjukkan seseorang mengalami aritmia.

"Bisa dari kapasitas fungsional jantungnya itu sendiri. Dengan kata lain mungkin exercise-nya kurang, jadi jantungnya kurang terlatih," kata Budi dalam temu media daring, dikutip Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Jantung Berdebar Padahal Lagi Santai? Waspada, Itu Bisa Jadi Tanda Aritmia

Meski begitu, sesak yang berlebihan saat melakukan aktivitas fisik ringan juga dapat menjadi tanda adanya masalah pada irama maupun kemampuan pompa jantung.

Salah satu kondisi yang perlu diperhatikan adalah bradikardia, yakni kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat dari normal. Pada orang dewasa, denyut jantung saat beristirahat yang berada di bawah 60 kali per menit umumnya dikategorikan sebagai bradikardia, meski kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit.

Menurut Budi, gangguan irama jantung dapat membuat kemampuan jantung menyesuaikan denyut saat tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen menjadi terganggu. Akibatnya, keluhan dapat muncul meski beban aktivitas tidak terlalu berat.

Baca Juga: Dokter Jantung Ingatkan Penderita Hipertensi Jangan Asal Lari, Risiko Tekanan Darah Bisa Melonjak

"Kondisi lain adalah ada masalah dari irama jantungnya, atau bisa juga masalah pompa jantungnya. Di mana kemampuan pompa jantungnya berkurang, sehingga pada beban jantung yang tidak terlalu tinggi sudah timbul keluhan," jelasnya.

Untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan bradiaritmia, dokter dapat melihat respons denyut jantung ketika seseorang melakukan aktivitas.

"Kalau untuk menyingkirkan bradiaritmianya, kita tes saja pada saat naik tangga, laju jantungnya naik atau nggak? Kalau pada saat naik tangga atau aktivitas lain laju jantungnya tidak bergeming, ada kemungkinan terjadi gangguan irama," ujarnya.

Penanganan gangguan irama jantung nantinya bergantung pada kondisi masing-masing pasien. Pada kasus bradiaritmia tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan alat pacu jantung permanen atau pacemaker.

Selain pacemaker konvensional yang menggunakan kabel, saat ini tersedia pula leadless pacemaker atau alat pacu jantung tanpa kabel. Namun, pilihan alat tetap disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.

Budi menjelaskan pacemaker tanpa kabel dapat menjadi pilihan pada pasien tertentu yang memiliki risiko lebih tinggi jika menggunakan perangkat konvensional.

"Biasanya yang usianya sangat lanjut, biasanya ringkih, kulitnya tipis, itu kalau misalnya kami lakukan pemasangan pacemaker yang standar itu risiko infeksi tinggi," katanya.

Pilihan tersebut juga dapat dipertimbangkan pada pasien yang menjalani cuci darah secara rutin dan memiliki akses pembuluh darah besar.

"Atau pada pasien dengan cuci darah, yang harus rutin cuci darah rutin dengan akses pembuluh darah besar," tutupnya.

Karena itu, sesak setelah naik tangga tidak perlu langsung membuat seseorang khawatir mengalami aritmia. Namun, jika sesak terasa tidak wajar, muncul berulang, atau terjadi saat aktivitas yang sebenarnya ringan, keluhan tersebut sebaiknya diperiksakan.

Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab sesak secara pasti, apakah berkaitan dengan kebugaran tubuh, gangguan jantung, masalah paru-paru, atau kondisi kesehatan lainnya.