Pemerintah membuka kemungkinan melakukan efisiensi pada sejumlah komponen belanja dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila kenaikan harga minyak dunia memicu pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 melampaui batas aman.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa langkah efisiensi tersebut tidak akan menyentuh komponen utama program MBG, khususnya alokasi anggaran untuk penyediaan makanan bagi para penerima manfaat.

Fokus penghematan, kata dia, justru akan diarahkan pada belanja yang tidak berkaitan langsung dengan penyediaan makanan.

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga minyak global. Salah satu skenario yang diuji adalah jika harga minyak dunia bertahan di kisaran US$92 per barel sepanjang tahun.

Berdasarkan hasil simulasi tersebut, defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Jika skenario tersebut terjadi, pemerintah akan menyiapkan langkah-langkah penyesuaian belanja agar defisit tetap terkendali.

“Kita sudah exercise kalau harga minyak setahun rata-rata US$ 92 maka defisitnya 3,6% PDB, itu kita akan lakukan langkah-langkah supaya tidak terjadi di situ,” tutur Purbaya, saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Baca Juga: IHSG Anjlok Rupiah Melemah, Purbaya: Boro-boro Krisis Resesi Aja Belum

Dalam konteks program MBG, Purbaya menekankan bahwa yang berpotensi dikaji ulang adalah belanja penunjang yang tidak secara langsung mendukung penyediaan makanan bagi penerima manfaat.

Misalnya, pengadaan motor baru hingga komputer. Ia menekankan anggaran yang akan dievaluasi adalah pengadaan barang yang tak berhubungan dengan makanan. Sehingga belanja program makan bergizi gratis dipastikan betul-betul efektif dan efisien.

“Kalau ada yang perlu kita hati-hati, kita cegah belanja yang tidak langsung mendukung makanan. Misalnya SPPG dibelikan motor, atau semua SPPG diberi komputer. Mereka senang, saya rugi.Jadi dari sisi anggaran kita harus lebih hati-hati,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana memangkas anggaran utama untuk makanan dalam program MBG.

Efisiensi, kata dia, jika dilakukan, hanya akan menyasar komponen yang dinilai kurang prioritas.

“Bukan berarti anggaran makanan dalam MBG dipotong. Yang mungkin dikaji adalah belanja yang tidak terlalu penting. ini bukan berarti saya dukung MBG-nya, enggak. Yang untuk makanan tetap kita jaga,” tandas Purbaya.

Baca Juga: Biaya MBG Dialokasikan dalam Anggaran Pendidikan, Ketua Banggar Sebut Itu Keputusan Politik yang Sah