Growthmates, perhatian investor kini tertuju pada Apple setelah perusahaan tersebut memperkenalkan iPhone Duo, ponsel lipat pertamanya, dalam acara peluncuran September 2026. Kehadiran perangkat baru ini menjadi salah satu perkembangan penting bagi Apple, sekaligus kembali menyoroti posisi saham perusahaan teknologi tersebut dalam portofolio investasi Warren Buffett.
Warren Buffett pertama kali membeli saham Apple pada 2016. Sejak saat itu, investasi tersebut berkembang menjadi salah satu kepemilikan paling bernilai bagi Berkshire Hathaway. Buffett bahkan pernah menggambarkan investasi Apple sebagai contoh bagaimana sebuah perusahaan dapat menciptakan nilai bagi pemegang saham tanpa investor harus banyak melakukan sesuatu setelah pembelian.
Berkshire mengeluarkan sekitar US$36 miliar untuk membeli saham Apple hingga pertengahan 2018. Dalam surat tahunan Berkshire Hathaway, Buffett menjelaskan bahwa perusahaan juga memperoleh dividen dari Apple serta merealisasikan keuntungan dari penjualan sebagian kecil kepemilikannya.
“Dan saya tidak perlu melakukan apa pun,” kata Buffett, ketika menggambarkan bagaimana nilai investasinya di Apple berkembang, dikutip dari The Economics Times, Kamis (17/9/2026).
Meski Berkshire kemudian memangkas sebagian besar kepemilikannya di Apple, perusahaan pembuat iPhone tersebut tetap menjadi salah satu aset ekuitas terbesar Berkshire. Keputusan Buffett untuk mengurangi kepemilikan Apple juga tidak menghapus pandangannya terhadap kualitas bisnis perusahaan tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Buffett bahkan mengakui bahwa dirinya menjual sebagian saham Apple terlalu dini dan mengatakan ingin membeli kembali saham tersebut, meskipun bukan pada harga pasar saat itu.
Ia juga pernah memuji CEO Apple, Tim Cook, dengan mengatakan bahwa Cook telah menghasilkan lebih banyak uang bagi pemegang saham Berkshire dibandingkan yang pernah dihasilkannya sendiri sebagai CEO.
Ketertarikan terhadap Apple sebagai perusahaan investasi juga pernah disampaikan investor legendaris lainnya, Peter Lynch. Pada 2023, Lynch mengungkapkan penyesalannya karena tidak membeli saham Apple ketika melihat produk-produknya mulai menunjukkan potensi besar.
“Apple sebenarnya tidak sulit dipahami. Maksud saya, betapa bodohnya saya saat itu?” ujar Lynch kepada CNBC.
Lynch menceritakan bahwa ia pernah melihat putrinya membeli iPod seharga US$250. Saat itu, ia menyadari Apple kemungkinan memperoleh margin keuntungan yang tinggi dari produk tersebut. Namun, ia tidak melanjutkan pengamatannya dengan membeli saham Apple, sebuah keputusan yang kemudian ia sesali ketika perusahaan itu tumbuh pesat.
Baca Juga: John Ternus Gantikan Tim Cook, Bagaimana Nasib Saham Apple?
Kisah Buffett dan Lynch menunjukkan bagaimana Apple menarik perhatian investor bukan hanya melalui produk-produknya, tetapi juga melalui kemampuan bisnis perusahaan dalam membangun ekosistem dan menghasilkan keuntungan dalam jangka panjang.
Namun, performa historis tersebut tentu tidak dengan sendirinya menentukan kinerja saham Apple pada masa mendatang.
Kini, perhatian kembali mengarah pada strategi Apple setelah perusahaan memasuki pasar ponsel lipat. Apple memperkenalkan iPhone Duo dengan harga mulai US$1.999 di Amerika Serikat. Perangkat tersebut menggunakan desain lipat bergaya buku atau paspor, dengan layar bagian dalam 7,6 inci dan layar luar 5,4 inci.
Masuknya Apple ke pasar ponsel lipat menjadi langkah penting karena kategori tersebut selama ini masih tergolong kecil dibandingkan keseluruhan pasar smartphone. Reuters mencatat pangsa ponsel lipat diperkirakan masih di bawah 3% dari penjualan smartphone global pada 2026. Meski demikian, kehadiran Apple diperkirakan dapat meningkatkan perhatian konsumen terhadap kategori tersebut.
Sebelum peluncuran, analis juga memperkirakan perangkat lipat Apple dapat menghasilkan lebih dari US$45 miliar pendapatan hingga akhir 2027. Angka tersebut merupakan proyeksi analis, bukan hasil penjualan yang telah terealisasi.
Bagi investor, perkembangan tersebut menambah babak baru dalam perjalanan Apple. Perusahaan kini tidak hanya mengandalkan lini iPhone yang sudah mapan, tetapi juga mencoba membuka kategori produk baru sembari memperkuat layanan dan teknologi kecerdasan buatan.
Meski demikian, alasan Buffett mempertahankan Apple dalam portofolio Berkshire tidak semata-mata bergantung pada satu produk baru.
Rekam jejak investasi tersebut memperlihatkan bagaimana Buffett menilai sebuah bisnis dalam jangka panjang, termasuk kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, mengembalikan modal kepada pemegang saham, serta mempertahankan posisi kompetitifnya.
Baca Juga: Strategi Investasi Warren Buffett dalam Analogi Segelas Bir