Karena itu, ia memilih menghentikan sementara rutinitas olahraga hingga kondisinya benar-benar pulih. Menurutnya, memaksakan olahraga saat tubuh masih berjuang melawan infeksi hanya akan menambah beban kerja organ-organ tubuh.
"Kalau misalkan dia kena infeksi sistemik dan memaksakan diri untuk olahraga, itu bebannya tambah berat. Bisa infeksinya lebih lama, atau bisa kena ke organ lainnya yang lebih parah," ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta menjelaskan bahwa salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah rhabdomyolysis, yaitu kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat akibat tubuh sudah kehabisan cadangan energi.
"Bisa risikonya ke rhabdomyolysis sama acute kidney injury. Rhabdomyolysis itu ketika seseorang dalam kondisi pressure terkuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, yang dipecah itu adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah, munculnya jadi sel otot yang pecah. Jadinya rhabdomyolysis," jelasnya.
Selain itu, olahraga berat saat sakit juga dapat memicu acute kidney injury (AKI) atau cedera ginjal akut.
Kondisi ini terjadi ketika fungsi ginjal menurun secara tiba-tiba sehingga organ tersebut tidak lagi mampu menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan tubuh dengan baik.
"Terus yang kedua acute kidney injury. Ketika ginjal berhenti bekerja secara mendadak. Ending-nya kematian," tegas dr. Tirta.
Baca Juga: Olahraga Setiap Hari Tanpa Istirahat Bisa Merusak Otot? Ini Penjelasan Dokter Tirta