Secangkir kopi kini bisa datang ke depan pintu rumah hanya dalam hitungan menit. Cukup membuka aplikasi, memilih menu, melakukan pembayaran, lalu menunggu kurir mengantarkan pesanan. Kemudahan tersebut membuat aktivitas minum kopi tidak lagi mengharuskan seseorang meninggalkan rumah.

Akan tetapi, ada satu hal yang menarik. Di tengah kemudahan itu, kafe tetap ramai didatangi. Bukan hanya sekadar untuk menyeruput kopi, namun melakukan aktivitas lainnya di sebuah kafe.

Pada sore hari, misalnya, pemandangan di kafe-kafe perkotaan tidak lagi hanya dipenuhi orang yang datang untuk makan dan minum. Ada yang membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaan, menggelar pertemuan informal, mengerjakan tugas, bertemu teman, atau sekadar mencari tempat untuk beristirahat sejenak dari rutinitas.

Artinya, ketika kopi semakin mudah dibeli tanpa harus datang langsung ke gerai, alasan orang mengunjungi kafe justru semakin beragam.

Baca Juga: Bosan Ngantor di Kafe? Ini 5 Perpustakaan Nyaman di Jakarta untuk WFA

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa peran kafe bagi masyarakat urban telah berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat makan dan minum. Ia menjadi ruang untuk menjalani berbagai aktivitas sekaligus, mulai dari bekerja hingga bersosialisasi.

Fenomena ini sejalan dengan konsep third place yang diperkenalkan sosiolog Ray Oldenburg, yakni ruang di luar rumah dan tempat kerja yang memungkinkan orang berinteraksi secara informal. Kafe menjadi salah satu bentuk third place yang paling mudah ditemui dalam kehidupan masyarakat perkotaan.

Menariknya, kebutuhan terhadap ruang semacam itu justru tetap bertahan ketika kehidupan sehari-hari semakin terdigitalisasi. Penelitian mengenai kafe sebagai third place menunjukkan bahwa kafe modern dapat berfungsi sebagai ruang yang nyaman dan netral untuk berinteraksi, sementara penggunaan perangkat digital di dalamnya berjalan berdampingan dengan interaksi tatap muka.

Dengan kata lain, teknologi memang membuat banyak aktivitas dapat dilakukan dari mana saja, tetapi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan manusia untuk hadir secara fisik di suatu tempat.

Baca Juga: Cocok Buat Pecinta Buku, Ini 4 Kafe Perpustakaan di Jakarta yang Wajib Dikunjungi, Asyik Juga Buat Me Time Lho!

Ketika Minum Kopi Menjadi Aktivitas Sosial

Perubahan tersebut dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi kopi. Minum kopi semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sosial maupun produktif yang dilakukan sehari-hari.

Mengutip Survei Jakpat terhadap 1.002 responden pada 2025, menunjukkan 46% masyarakat mengonsumsi kopi setiap hari. Yang menarik, alasan di balik kebiasaan tersebut tidak seluruhnya berkaitan dengan minuman itu sendiri. Sebanyak 44% responden menjadikan aktivitas minum kopi sebagai sarana berkumpul dan mengobrol dengan teman, sementara 34% lainnya mengonsumsi kopi untuk membantu fokus ketika bekerja atau belajar.

Kopi, dengan demikian, sering kali hanya menjadi bagian dari aktivitas yang lebih besar.

Seseorang bisa mengajak temannya bertemu dengan kalimat sederhana, “Ngopi, yuk,” meski yang sebenarnya dicari bukan sekadar secangkir kopi. Begitu pula seseorang yang membawa laptop ke kafe. Kopi mungkin menjadi teman bekerja, sedangkan tempat dan suasananya menjadi alasan untuk memilih bekerja dari sana.

Karena itu, ketika konsumen menentukan pilihan kafe, pertimbangannya pun tidak lagi berhenti pada rasa makanan atau minuman. Kenyamanan tempat duduk, suasana, pelayanan, akses internet, ketersediaan colokan, hingga desain interior dapat ikut menentukan pengalaman selama berada di sana.

Baca Juga: Erajaya Group Bentuk Perusahaan Patungan PT Era Oriental Kopi

Sejumlah penelitian mengenai karakteristik third place pada kafe juga menunjukkan bahwa aspek fisik ruang, seperti pengaturan tempat duduk dan lingkungan di dalam kafe, turut memengaruhi bagaimana pengunjung memandang sebuah tempat sebagai ruang sosial.

Pada akhirnya, yang dikonsumsi bukan hanya apa yang tersaji di atas meja, tetapi juga pengalaman yang menyertainya.

Satu Tempat, Beragam Kebutuhan

Perubahan pola kerja turut memperkuat fungsi tersebut. Ketika pekerjaan semakin fleksibel dan tidak selalu harus dilakukan dari kantor, kafe menjadi salah satu alternatif ruang yang menawarkan suasana berbeda dari rumah maupun tempat kerja formal.

Satu meja dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Pagi hari mungkin menjadi tempat menyelesaikan pekerjaan dan mengikuti rapat daring. Beberapa jam kemudian, meja yang sama bisa digunakan untuk makan siang atau bertemu teman.

Fenomena hybrid third places bahkan menunjukkan bagaimana kafe dapat menjadi ruang yang menggabungkan aktivitas bekerja, makan, dan bersosialisasi dalam satu tempat.

Baca Juga: Fenomena Work From Cafe, Bisa Jadi Solusi atau Justru Pemborosan Diri?

Perubahan ini membuat batas antara produktivitas dan rekreasi semakin cair. Orang tidak selalu datang ke kafe dengan satu tujuan yang spesifik. Mereka dapat bekerja sambil minum kopi, bertemu klien sambil makan, atau menyelesaikan pekerjaan sebelum kemudian mengobrol dengan teman.

Karena itu pula, persaingan di industri F&B semakin bergeser. Ketika menu serupa semakin mudah ditemukan, pengalaman menjadi salah satu pembeda yang dapat membuat konsumen memilih satu tempat dibandingkan tempat lainnya.

Kafe tidak hanya perlu menawarkan makanan dan minuman yang menarik, tetapi juga alasan bagi konsumen untuk tinggal lebih lama.

Dari Tempat Makan Menjadi Bagian dari Gaya Hidup

Perubahan cara masyarakat menggunakan kafe berlangsung bersamaan dengan berkembangnya industri F&B perkotaan. Bank Indonesia dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha kuartal II 2026 mencatat aktivitas bisnis secara umum meningkat, dengan sektor akomodasi dan makan-minum termasuk yang turut ditopang oleh meningkatnya aktivitas masyarakat pada periode hari besar keagamaan dan liburan sekolah.

Di tengah perkembangan tersebut, konsep F&B pun semakin beragam. Bakery café, coffee house, tea house, hingga restoran dengan konsep khusus tidak hanya menawarkan menu, tetapi juga suasana dan karakter ruang yang berbeda.

Baca Juga: Rekomendasi Coffee Shop Estetik di Bogor, Nyaman untuk Nongkrong hingga Kerja

Perubahan perilaku konsumen ikut mendorong kafe dan restoran menjadi bagian dari agenda sehari-hari. Pertemuan bisnis dapat berlangsung sambil makan siang, diskusi komunitas dilakukan sambil minum kopi, sementara pertemuan dengan teman dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk bekerja atau menikmati waktu luang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengalaman menjadi bagian penting dari konsumsi.

Hal tersebut juga menjelaskan mengapa digitalisasi tidak serta-merta membuat ruang fisik kehilangan relevansinya. Konsumen mungkin menemukan sebuah kafe melalui media sosial, melihat menu secara daring, melakukan reservasi atau pembayaran melalui perangkat digital, tetapi pada akhirnya tetap datang ke ruang fisiknya untuk mendapatkan pengalaman yang tidak dapat diberikan oleh layar.

Di titik inilah teknologi dan ruang fisik justru saling melengkapi.

Erajaya Melihat Perubahan di Balik Gaya Hidup Konsumen

Perubahan tersebut juga ikut membuka ruang bagi perusahaan yang sebelumnya lebih dikenal di sektor teknologi untuk memperluas bisnis ke gaya hidup.

Erajaya Group, yang selama tiga puluh tahun membangun bisnis melalui distribusi dan ritel perangkat telekomunikasi, kini memiliki portofolio yang semakin beragam. Salah satunya melalui Erajaya Food & Nourishment (EFN) yang bergerak di sektor F&B dan grocery.

Sepanjang 2025, jumlah jaringan gerai EFN meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 35 gerai pada akhir 2024 menjadi 77 gerai pada akhir 2025. Portofolionya mencakup sejumlah merek F&B, seperti Paris Baguette, Bacha Coffee, Curry Up, CHAGEE, serta jaringan grocery GrandLucky Superstore.

Baca Juga: Strategi Erajaya Keluar dari Perang Harga

Ekspansi tersebut berlangsung ketika Erajaya sendiri tengah memasuki tiga dekade perjalanan bisnisnya. Pada tahun buku 2025, perusahaan mencatat penjualan bersih Rp76,6 triliun, meningkat dari Rp65,27 triliun pada tahun sebelumnya. Perusahaan menyebut diversifikasi bisnis menjadi salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan tersebut.

Namun, masuk ke F&B tentu tidak sesederhana memindahkan pengalaman dari bisnis teknologi ke restoran atau kafe. Setiap industri memiliki karakter konsumen dan cara membangun pengalaman yang berbeda.

Vice President Director PT Erajaya Swasembada Tbk, Hasan Aula, pernah menjelaskan hal tersebut kepada Olenka.

“Contohnya, kami dari bisnis teknologi, mau masuk ke bisnis fashion, lifestyle, F&B, atau food and nourishment itu tidak gampang. Kami harus beradaptasi dengan culture yang berbeda, dengan orang yang akan berbeda, dengan industri yang berbeda, dengan cara mengendalikan customer yang berbeda. Itu yang sangat penting,” tegas Hasan.

Baca Juga: Mengenal Sosok Hasan Aula, Petinggi Erajaya Group yang Lekat dengan Inovasi

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa diversifikasi ke lifestyle bukan hanya persoalan menambah jenis bisnis. Ada perubahan cara perusahaan memahami konsumen yang harus ikut dilakukan.

Sebab, konsumen yang sama yang membeli smartphone di sebuah gerai bisa saja pada hari berikutnya mencari tempat untuk berolahraga, menikmati kopi, makan bersama keluarga, atau bertemu komunitas.

Kebutuhannya berbeda, tetapi semuanya merupakan bagian dari gaya hidup yang semakin terintegrasi.

Ketika Pengalaman Menjadi Nilai Tambah

Cara pandang terhadap konsumen tersebut sebenarnya juga terlihat dalam strategi Erajaya di bisnis ritelnya.

Sebelumnya, Hasan pernah mengatakan bahwa perusahaan berusaha menghindari persaingan yang hanya bertumpu pada harga dengan menciptakan nilai tambah melalui bundling produk, layanan, aksesori, serta peningkatan kualitas pelayanan.

“Kita jangan hanya jual produk aja, kita jual produk bundle, jadi orang nggak bisa bedain harganya kan. Kalau kita hanya compare device to device itu gampang di-compare,” ujarnya.

Baca Juga: Perkuat Strategi Pemasaran yang Lebih Personal, Erajaya Manfaatkan Solusi Salesforce

Strategi tersebut memang berada dalam konteks bisnis ritel perangkat. Namun, gagasan yang sama dapat ditemukan dalam perkembangan industri lifestyle: ketika produk semakin mudah dibandingkan, pengalaman menjadi ruang untuk menciptakan pembeda.

Dalam F&B, pengalaman itu bisa berupa suasana kafe, pelayanan, desain ruang, hingga kesempatan untuk menjadikan sebuah tempat sebagai bagian dari rutinitas.

Karena itulah perkembangan bisnis F&B Erajaya menjadi menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai diversifikasi portofolio, tetapi juga sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumen.

Oriental Kopi dan Bertambahnya Ruang Sosial Baru

Langkah terbaru Erajaya di sektor tersebut terlihat dari kemitraannya dengan Oriental Coffee International Sdn. Bhd. pada Agustus 2026.

PT Era Boga Nusantara, bagian dari Erajaya Group, membentuk perusahaan patungan PT Era Oriental Kopi bersama Oriental Coffee International untuk mengembangkan dan menjalankan restoran Oriental Kopi di Indonesia. Dalam struktur tersebut, EBN memegang 60% saham, sedangkan Oriental Coffee International memiliki 40%.

Pengembangan tahap awal akan difokuskan di wilayah Jabodetabek. Kemitraan tersebut menjadi langkah baru bagi Erajaya untuk memperluas portofolio bisnis food & nourishment, sekaligus membawa merek asal Malaysia tersebut ke pasar Indonesia.

CEO Erajaya Food & Nourishment Jeremy Sim mengatakan antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Oriental Kopi telah tumbuh bahkan sebelum merek tersebut hadir secara resmi di Indonesia. Sementara dari sisi Oriental Kopi, Indonesia dipandang memiliki kedekatan geografis dan selera kuliner dengan Malaysia.

Kehadiran merek baru seperti Oriental Kopi pada akhirnya tidak hanya menambah pilihan makanan dan minuman. Lebih jauh, ia ikut memperkaya pilihan ruang yang dapat digunakan masyarakat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Prinsip Kepemimpinan Petinggi Erajaya, Hasan Aula

Hal itu menjadi semakin relevan ketika konsumen tidak lagi memisahkan secara tegas antara makan, bekerja, bersosialisasi, dan menikmati waktu luang.

Tiga Dekade dan Konsumen yang Terus Berubah

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari cerita 30 Tahun Erajaya Group, sebuah periode ketika perilaku konsumen berubah jauh dibandingkan saat perusahaan pertama kali berdiri pada 1996.

Teknologi yang dahulu menjadi produk kini telah menjadi bagian dari kehidupan. Smartphone digunakan untuk bekerja dan berkomunikasi, perangkat wearable membantu aktivitas olahraga, sementara layanan digital menghubungkan konsumen dengan berbagai kebutuhan dalam hitungan detik.

Namun, semakin terhubungnya kehidupan melalui perangkat digital ternyata tidak membuat ruang fisik kehilangan makna.

Justru sebaliknya, ruang fisik seperti kafe dan restoran mendapatkan fungsi baru. Tempat-tempat tersebut menjadi titik pertemuan antara kehidupan digital dan kehidupan sehari-hari, tempat seseorang dapat membawa pekerjaannya sekaligus bertemu orang lain, atau menikmati makanan sembari membangun relasi.

Di situlah perubahan gaya hidup urban menjadi menarik. Konsumen tidak lagi hidup dalam kategori yang terpisah antara bekerja, berbelanja, makan, berolahraga, dan bersosialisasi. Semua aktivitas tersebut dapat berlangsung dalam satu hari, bahkan dalam satu tempat.

Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa kafe tetap dicari meski kopi bisa dipesan dari rumah. Karena yang dicari konsumen sebenarnya tidak selalu berada di dalam cangkir.

Ada suasana yang ingin dinikmati, pekerjaan yang ingin diselesaikan, teman yang ingin ditemui, komunitas yang ingin dibangun, atau sekadar kesempatan untuk keluar dari rutinitas dan berada di ruang yang berbeda.

Kopi bisa diantar ke rumah. Tetapi pengalaman bertemu, berbincang, bekerja bersama, dan merasa menjadi bagian dari sebuah ruang tidak bisa dikirim oleh kurir.

Dan selama kebutuhan itu masih ada, kafe akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat urban.