Ada masa ketika ponsel hanya dibutuhkan untuk menelepon dan mengirim pesan. Kini, rasanya sulit membayangkan satu hari tanpa perangkat tersebut. Setuju gak, Growthmates?

Ponsel sudah masuk ke hampir setiap bagian kehidupan. Pagi hari dimulai dari layar ponsel. Urusan pekerjaan berpindah dari laptop ke smartphone ketika seseorang harus bergerak. Setelah jam kerja berakhir, perangkat yang sama kembali menemani pengguna mencari hiburan.

Perubahan ini menunjukkan bahwa teknologi tidak lagi berdiri sebagai alat yang digunakan pada waktu tertentu. Teknologi sudah menjadi bagian dari cara masyarakat menjalani hari.

Di Indonesia, ketergantungan tersebut terlihat dari jumlah pengguna internet yang terus membesar. DataReportal mencatat ada sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir 2025. Penetrasinya mencapai 80,5 persen dari total populasi. Hampir seluruh pengguna internet juga mengaksesnya melalui telepon seluler.

Kondisi tersebut ikut mengubah cara orang bekerja dan menikmati waktu luang. Produktivitas tidak lagi selalu membutuhkan meja kantor. Hiburan pun tidak harus menunggu seseorang tiba di rumah.

Satu perangkat dapat mengikuti perpindahan itu.

Baca Juga: Ketika Kopi Bisa Dipesan dari Rumah, Mengapa Kafe Tetap Dicari?

Fenomena Konsumen Melihat Perangkat sebagai Ekosistem

Perubahan pola kerja menjadi salah satu faktor yang membuat perangkat digital semakin penting. Ketika pekerjaan dapat dilakukan dari berbagai tempat, perangkat yang digunakan ikut menentukan seberapa mudah seseorang berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya.

Laptop tetap menjadi perangkat utama untuk pekerjaan yang membutuhkan layar lebih besar. Namun smartphone mengambil peran ketika seseorang harus berkomunikasi dengan cepat atau menyelesaikan sesuatu saat sedang berada di luar meja kerja.

Setelah pekerjaan selesai, fungsi perangkat tersebut tidak berhenti. Layar yang sama dapat digunakan untuk menonton, bermain gim atau sekadar membuka media sosial.

Dengan demikian, batas antara perangkat untuk bekerja dan perangkat untuk hiburan pun semakin samar.

Fenomena ini juga membuat konsumen mulai melihat perangkat sebagai sebuah ekosistem. Mereka tidak hanya mempertimbangkan kemampuan satu produk, tetapi juga bagaimana perangkat tersebut bisa terhubung dengan perangkat lain dan mendukung kebiasaan yang sudah mereka miliki.

Hasan Aula, CEO Erajaya Digital, melihat perubahan tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan gaya hidup masyarakat.

“Ponsel kini bukan lagi hanya alat komunikasi, tapi sudah menjadi way of life. Semua orang butuh, semua aktivitas bisa dilakukan lewat ponsel. Maka dari itu, transformasi ke smart-lifestyle adalah langkah logis,” ujar Hasan dalam sebuah video yang tayang di Instagram Olenka, dikutip Jumat (04/09/2026).

Baca Juga: Strategi Erajaya Keluar dari Perang Harga

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika melihat bagaimana perangkat digital digunakan saat ini. Smartphone tidak lagi berdiri sendiri. Pengguna menghubungkannya dengan smartwatch, perangkat audio, laptop hingga berbagai layanan digital yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih praktis.

Pada akhirnya, yang dicari konsumen bukan semata-mata perangkat dengan spesifikasi tinggi. Mereka membutuhkan teknologi yang bisa mengikuti ritme kehidupan.

Antara Perilaku Konsumen dan Arah Bisnis

Perubahan perilaku konsumen itu ikut memengaruhi arah bisnis Erajaya Group.

Selama bertahun-tahun, Erajaya dikenal melalui bisnis distribusi dan ritel perangkat telekomunikasi. Namun perkembangan kebutuhan konsumen membuat perusahaan memperluas pendekatan tersebut melalui ekosistem Erajaya Digital.

Saat ini, jaringan tersebut mencakup berbagai format ritel seperti erafone, iBox, Erablue, Samsung by erafone dan Xiaomi Store. Ada pula berbagai produk pendukung yang membuat konsumen dapat membangun ekosistem perangkat sesuai kebutuhannya.

Skala bisnis Erajaya Digital menunjukkan betapa besarnya peran teknologi dalam kehidupan konsumen. Segmen ini menyumbang sekitar 74 persen dari penjualan bersih Erajaya pada 2025. Pada tahun yang sama, Erajaya Group mencatat penjualan bersih Rp76,6 triliun.

Angka tersebut bukan hanya menggambarkan besarnya pasar perangkat digital. Di dalamnya terdapat perubahan kebiasaan masyarakat yang membuat kebutuhan terhadap teknologi semakin luas.

Konsumen kini datang bukan hanya untuk mengganti ponsel lama. Mereka juga mencari perangkat yang bisa menunjang pekerjaan, olahraga, komunikasi hingga hiburan.

Karena itu, pengalaman ketika membeli perangkat ikut menjadi penting.

Hasan mengatakan, Erajaya menempatkan pengalaman konsumen sebagai salah satu perhatian utama. Menurut dia, kemampuan tenaga penjual untuk menjelaskan sekaligus mendemonstrasikan produk menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Customer experience dan kepuasan pelanggan adalah prioritas utama. Karena itu, kami juga fokus pada pelatihan SDM yang bisa menjelaskan dan mendemokan produk kepada pelanggan secara optimal,” jelasnya.

Baca Juga: Prinsip Kepemimpinan Petinggi Erajaya, Hasan Aula

Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika produk teknologi berkembang semakin kompleks. Konsumen tidak selalu membutuhkan penjelasan mengenai angka spesifikasi. Mereka ingin tahu apakah perangkat tersebut benar-benar dapat membantu aktivitas mereka.

Pengalaman Belanja Ikut Berubah

Tak hanya perilaku konsumen dan arah bisnisnya yang berubah. Namun, perubahan perilaku digital juga mengubah cara konsumen berbelanja.

Masyarakat semakin terbiasa mencari informasi secara online sebelum datang ke toko. Mereka membandingkan produk, membaca ulasan dan melihat pengalaman pengguna lain. Setelah itu, toko fisik tetap memiliki peran ketika konsumen ingin mencoba perangkat secara langsung.

Pola tersebut membuat batas antara belanja online dan offline semakin tidak tegas.

Dengan begitu, Erajaya mengembangkan pendekatan omnichannel untuk menjembatani keduanya. Konsumen dapat berinteraksi dengan berbagai kanal dan tetap terhubung dengan ekosistem yang sama.

Hingga kuartal I 2026, jumlah anggota MyEraspace telah mencapai lebih dari 17,5 juta. Angka tersebut menunjukkan besarnya basis konsumen yang terhubung dengan ekosistem digital Erajaya.

Bagi Hasan, pengalaman konsumen juga tidak berhenti pada harga perangkat.

“Kita jangan hanya jual produk aja, kita jual produk bundle, jadi orang nggak bisa bedain harganya kan. Kalau kita hanya compare device to device itu gampang di-compare,” ujarnya.

Menurut dia, layanan menjadi pembeda ketika produk yang ditawarkan memiliki spesifikasi serupa.

“Dengan service level lebih baik, orang tidak lihat harga lagi biasanya, walaupun barang sama, orang pasti pilih yang service levelnya lebih baik,” lanjut Hasan.

Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana bisnis perangkat teknologi ikut bergeser. Ketika informasi mengenai produk sudah mudah ditemukan di internet, pengalaman yang diberikan kepada konsumen menjadi bagian dari nilai yang ditawarkan.

Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu berarti meninggalkan toko fisik. Justru keduanya dapat saling melengkapi.

Membaca Teknologi dari Cara Orang Menjalani Hidup

Memasuki 30 Tahun Erajaya Group, perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang perusahaan dalam mengikuti perkembangan konsumen.

Selama tiga dekade, teknologi yang dijual Erajaya telah mengalami perubahan besar. Ponsel sederhana berkembang menjadi smartphone. Perangkat yang dulu berdiri sendiri kini saling terhubung. Cara orang membeli produk pun berubah mengikuti perkembangan kanal digital.

Karena itu, membaca bisnis teknologi hari ini tidak cukup hanya dengan melihat produk apa yang sedang laris.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa konsumen membutuhkannya.

Smartphone dibutuhkan karena pekerjaan dan komunikasi semakin mobile. Laptop tetap dicari karena produktivitas membutuhkan perangkat yang lebih leluasa. Perangkat wearable tumbuh bersama meningkatnya perhatian terhadap aktivitas dan kesehatan. Sementara perangkat audio dan layar menjadi bagian dari cara masyarakat menikmati hiburan.

Semua kebutuhan tersebut bertemu dalam satu perubahan besar: teknologi semakin menyatu dengan gaya hidup.

Erajaya pun bergerak mengikuti perubahan itu. Selain Erajaya Digital yang menjadi bisnis utamanya, perusahaan telah mengembangkan portofolio ke sektor active lifestyle serta food and nourishment. Pada 2025, kedua segmen tersebut masing-masing menyumbang 7,5 persen dan 3,8 persen dari penjualan Erajaya.

Jika dilihat lebih jauh, langkah tersebut sebenarnya memperlihatkan perubahan cara perusahaan memandang konsumen. Kebutuhan masyarakat tidak lagi dapat dipisahkan secara kaku berdasarkan kategori produk.

Seseorang yang membeli smartphone bisa saja membutuhkan smartwatch untuk menunjang aktivitasnya. Pada waktu yang sama, ia mungkin membutuhkan perangkat audio untuk bekerja atau menikmati musik.

Teknologi akhirnya menjadi bagian dari ekosistem kehidupan yang lebih luas.

Di tengah perubahan itu, tantangan bagi pemain ritel teknologi bukan hanya menghadirkan produk terbaru. Tantangan yang lebih besar adalah memahami bagaimana produk tersebut digunakan dan apa yang sebenarnya dicari konsumen.

Sebab, teknologi pada akhirnya bukan tentang seberapa canggih sebuah perangkat di atas kertas. Nilainya terlihat dari seberapa jauh perangkat itu mampu membuat kehidupan penggunanya menjadi lebih mudah.

Dulu ponsel hanya menjadi alat untuk berkomunikasi. Sekarang satu layar dapat menemani seseorang bekerja sekaligus beristirahat.

Dan perubahan itulah yang membuat perjalanan teknologi tidak pernah benar-benar berhenti. Yang berubah bukan hanya perangkatnya, tetapi juga cara manusia menjalani hidup bersamanya.