Pelaku usaha kain tradisional Mona Hita Ulos terus memperluas pasar songket dan ulos dengan memanfaatkan pameran serta kanal digital. Usaha yang dikembangkan sejak November 2025 itu kini tidak hanya menyasar konsumen domestik, tetapi mulai menjangkau pasar mancanegara.

Pemanfaatan media sosial seperti Instagram dan TikTok menjadi salah satu strategi Mona Hita Ulos dalam memperkenalkan produk sekaligus menjangkau konsumen yang lebih luas. Termasuk teknologi artificial intelligence (AI) yang juga mulai dimanfaatkan untuk mendukung pemasaran.

Baca Juga: Komdigi dan Kemendikbud Dorong Anak Kembali ke Permainan Tradisional

Mona mengatakan, pengembangan usaha tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap kain tradisional, khususnya songket. Ketertarikan itu muncul setelah dirinya diperkenalkan kepada seorang maestro songket saat berada di Jakarta.

“Waktu itu kami bingung mau melakukan apa. Akhirnya main ke songket dan diperkenalkan dengan maestro songket. Dari situ saya jatuh cinta dengan songket,” ujar Mona kepada wartawan, Kamis (2/10/2026) kemarin.

Baca Juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi Sumatera, Askrindo Perkuat Peran UMKM

Lanjutnya, ia mengaku saat ini dirinya tidak hanya mempelajari produk akhirnya, tetapi juga proses pembuatan kain tradisional, mulai dari teknik tenun hingga penggunaan pewarna alami. Ia juga mempelajari berbagai jenis ulos, salah satunya Tumtuman.

Menurutnya, pemahaman terhadap proses produksi menjadi bagian penting dalam membangun nilai produk kain tradisional. Pasalnya, setiap kain memiliki karakter dan proses pengerjaan yang berbeda, dengan melibatkan keterampilan para perajin.

“Bagi saya, kain tradisional itu harus disayangi. Bukan hanya dijual. Kita harus cinta dan memakai kain itu sendiri,” katanya.

Dari sisi produksi, kain tradisional membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif panjang. Beberapa jenis kain bahkan dapat membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan. Sementara kain yang dibuat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dapat dikerjakan dalam hitungan minggu.

Mona menekankan bahwa penggunaan ATBM tetap membutuhkan tenaga dan keterampilan manusia. Karena itu, proses produksi menjadi bagian dari nilai yang melekat pada produk kain tradisional.

“ATBM itu bukan mesin yang mengerjakan sendiri. Tetap manusia yang mengerjakan. Ada proses dan ketelitian di balik setiap kain,” ujarnya.