Growthmates, tidak semua masalah kepemimpinan dapat diselesaikan dengan pelatihan biasa. Dalam banyak kasus, seorang pemimpin sebenarnya sudah memahami teori dan prinsip kepemimpinan, tetapi masih kesulitan menerapkannya dalam situasi nyata, terutama saat menghadapi tekanan atau harus mengambil keputusan sulit.

Bagi CEO maupun pemimpin SDM, tanda-tanda tersebut biasanya bisa terlihat dari berbagai indikator, mulai dari tingginya turnover karyawan, beban kerja yang tidak merata dalam tim, hingga minimnya regenerasi pemimpin di bawahnya.

Tantangannya adalah menentukan apakah kondisi tersebut hanya memerlukan pelatihan tambahan atau justru membutuhkan pendampingan yang lebih mendalam melalui executive coaching.

Menurut Mark Murphy, Penulis sekaligus Pendiri Leadership IQ, ada sejumlah tanda yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin membutuhkan coaching secara personal untuk membantu mengubah perilaku dan meningkatkan efektivitas kepemimpinannya. Dan, dikutip dari Forbes, Senin (15/6/2026), berikut lima tandanya.

1. Terus Membiarkan Kinerja Buruk Berlangsung

Salah satu tanda pemimpin membutuhkan executive coaching adalah ketika mereka terus membiarkan karyawan berkinerja rendah tanpa tindakan tegas.

Biasanya ada berbagai alasan yang diberikan, mulai dari karyawan tersebut sedang mengalami masa sulit hingga dianggap masih sangat dibutuhkan tim.

Padahal, jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga merusak kredibilitas pemimpin dan membuat karyawan berprestasi merasa tidak dihargai.

Menurut riset Leadership IQ terhadap 1.087 anggota dewan yang pernah memecat CEO, sebanyak 27% menyebut toleransi terhadap kinerja rendah sebagai salah satu penyebab utama kegagalan kepemimpinan.

Masalahnya bukan karena pemimpin tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka umumnya sudah memahami proses manajemen kinerja, tetapi kesulitan melakukan percakapan yang tidak nyaman dengan karyawan yang bermasalah.

2. Karyawan Terbaik Mulai Kelelahan atau Keluar

Tanda berikutnya adalah ketika karyawan berprestasi mulai mengalami burnout atau memilih meninggalkan perusahaan.

Hal ini sering terjadi karena pekerjaan yang tidak diselesaikan oleh karyawan berkinerja rendah akhirnya dibebankan kepada orang-orang yang paling dapat diandalkan.

Akibatnya, karyawan terbaik harus bekerja lebih keras dibanding yang lain. Data Leadership IQ menunjukkan 68% karyawan berkinerja tinggi berisiko mengalami burnout, sementara 61% manajer justru lebih banyak menghabiskan waktu memperbaiki karyawan terburuk dibanding mengembangkan karyawan terbaiknya.

Menariknya, banyak pemimpin sebenarnya menyadari siapa anggota tim yang paling kewalahan. Namun mereka enggan mengambil tindakan karena harus menghadapi percakapan sulit dengan pihak yang menjadi sumber masalah.

Baca Juga: Mengenal Gaya Kepemimpinan yang Cocok untuk Perusahaan Keluarga