3. Tidak Ada Anggota Tim yang Siap Dipromosikan
Pemimpin yang efektif tidak hanya menghasilkan kinerja, tetapi juga mencetak pemimpin baru.
Karena itu, salah satu indikator penting adalah melihat apakah ada anggota tim yang berkembang dan siap naik ke posisi lebih tinggi. Jika dalam beberapa tahun terakhir tidak ada seorang pun yang dipromosikan atau siap menjadi pengganti pemimpin tersebut, itu bisa menjadi tanda adanya masalah.
Sering kali, pemimpin merasa sudah mengembangkan timnya. Namun kenyataannya mereka terlalu banyak mengontrol pekerjaan, selalu ingin terlibat dalam setiap keputusan, dan sulit memberikan kepercayaan kepada bawahan.
Akibatnya, target kerja tercapai, tetapi tidak ada regenerasi kepemimpinan yang terbentuk.
4. Selalu Defensif saat Mendapat Kritik
Pemimpin yang membutuhkan coaching juga biasanya sulit menerima umpan balik.
Ketika mendapat kritik, mereka cenderung membantah, mencari siapa yang memberikan masukan, atau menganggap kritik tersebut tidak relevan.
Dalam penelitian Leadership IQ terhadap 1.204 karyawan, sebanyak 44% responden mengatakan atasan mereka bersikap defensif saat menerima tantangan atau kritik. Bahkan sekitar 55% pemimpin tingkat C-suite tidak menunjukkan perubahan perilaku meski sudah diberi tahu mengenai kelemahan mereka.
Padahal, kemampuan menerima masukan merupakan kunci untuk berkembang. Jika setiap kritik dianggap sebagai serangan, proses pembelajaran akan terhenti.
5. Tim Takut Mengatakan Kebenaran
Tanda terakhir adalah ketika anggota tim merasa tidak aman untuk berbicara jujur.
Akibatnya, pemimpin sering terlambat mengetahui masalah, rapat berlangsung pasif, dan hanya sedikit orang yang berani menyampaikan pendapat.
Data Leadership IQ menunjukkan bahwa hanya 18% karyawan yang merasa benar-benar aman menyampaikan pendapat yang tidak populer. Selain itu, 39% pemimpin dinilai menciptakan lingkungan yang membuat karyawan enggan berbicara terbuka.
Kondisi ini membuat banyak ide, masukan, dan peringatan penting tidak pernah sampai kepada pemimpin. Akibatnya, inovasi terhambat dan keputusan strategis menjadi kurang optimal.
Mengapa Executive Coaching Dibutuhkan?
Nah Growthmates, kelima tanda tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu para pemimpin sebenarnya sudah tahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka telah mengikuti pelatihan, membaca buku, dan menerima berbagai masukan.
Namun, masalahnya bukan pada kurangnya pengetahuan, melainkan kesulitan mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata.
Leadership IQ menemukan bahwa 84% pemimpin tidak berubah meskipun sudah diberi tahu secara langsung mengenai kelemahan mereka. Karena itu, executive coaching dinilai lebih efektif dibanding pelatihan biasa karena fokus pada perubahan perilaku secara berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya soal mengetahui hal yang benar, tetapi juga berani melakukan hal yang benar, terutama saat menghadapi situasi yang sulit dan tidak nyaman.
Baca Juga: Gaya Kepemimpinan Presisi di Shell Indonesia