Growthmates, jerawat tidak selalu berakhir setelah masa remaja. Sebagian orang masih mengalami jerawat di usia 30-an dan 40-an, bahkan setelah bertahun-tahun memiliki kulit yang bersih.

Jerawat dapat muncul tiba-tiba di dagu atau garis rahang, meskipun rutinitas perawatan kulit tidak banyak berubah.

Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan hormon, stres, pola makan, hingga penggunaan produk perawatan kulit yang tidak cocok. Menurut Dr. Shifa Yadav, Konsultan Dermatologi di Artemis Hospital, Gurugram, India, jerawat tetap dapat muncul pada usia dewasa, bahkan tanpa masalah kulit lainnya.

“Jerawat sering dikaitkan dengan masa remaja, namun jerawat tetap bisa muncul di usia 30-an dan 40-an, bahkan tanpa adanya masalah kulit lainnya,” tuturnya.

Jerawat sendiri terbentuk ketika folikel rambut tersumbat oleh minyak atau sebum dan sel kulit mati. Kondisi ini dapat memicu komedo, peradangan, hingga benjolan yang terasa nyeri.

Lantas, apa saja faktor yang dapat menyebabkan jerawat kembali muncul di usia dewasa? Dikutip dari Times of India, Rabu (20/10/2026), berikut penjelasannya.

1. Perubahan Hormon

Jerawat yang berulang di sekitar dagu dan garis rahang dapat berkaitan dengan perubahan hormon. Pada perempuan, fluktuasi hormon selama siklus menstruasi, kehamilan, dan perimenopause dapat memengaruhi produksi minyak di kulit.

Sindrom ovarium polikistik (PCOS) juga dapat berkaitan dengan jerawat. Selain itu, Dr. Priyanka Hemrajani, Konsultan Senior Dermatologi di Marengo Asia Hospitals, Gurugram, India, menyebut resistensi insulin sebagai faktor lain yang dapat berperan dalam munculnya jerawat pada sebagian orang.

Meski demikian, jerawat tidak selalu menandakan gangguan hormon. Jika jerawat terus berulang, terutama disertai menstruasi tidak teratur atau pertumbuhan rambut berlebih di wajah, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

2. Stres dan Kurang Tidur

Tekanan pekerjaan, aktivitas padat, dan kurang tidur dapat memperburuk kondisi kulit. Stres memicu respons hormonal, termasuk perubahan kadar kortisol, yang dapat memengaruhi produksi minyak dan peradangan.

“Stres dapat memengaruhi kondisi kulit. Tingkat stres yang tinggi memicu tubuh mengeluarkan hormon, termasuk kortisol, yang menyebabkan peningkatan produksi minyak dan memperparah peradangan,” kata Dr. Yadav.

Tidak semua orang akan berjerawat ketika mengalami stres. Namun, menjaga kualitas tidur, mengelola stres, dan memperhatikan rutinitas harian dapat membantu mengurangi faktor yang berpotensi memperburuk kondisi kulit.

Baca Juga: Musim Hujan Datang, Kenapa Kulit Jadi Kusam dan Mudah Berjerawat?