Wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ternyata tak hanya menyentuh kursi orang nomor dua di Indonesia. Pengamat politik Tony Rosyid justru melihat ada risiko yang jauh lebih besar: bola panas pemakzulan bisa berbalik arah dan menyeret Presiden Prabowo Subianto.

Karena itu, Tony meminta Prabowo tidak gegabah dalam menyikapi isu pemakzulan Gibran. Menurutnya, dukungan maupun sikap diam dari kubu istana sama-sama bisa memiliki konsekuensi politik jika persoalan tersebut terus bergulir.

Bahkan, Tony memprediksi situasi bisa berubah menjadi lebih rumit apabila Gibran benar-benar didorong keluar dari jabatannya melalui proses politik di DPR.

"Prabowo perlu menghitung dengan cermat bola liar ini. Ketika impeach kepada dia dibuka, maka bola liar bisa juga digiring untuk menyasar Prabowo," tegas Tony dikutip Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Tunggu Tanggal Mainnya! Gibran Segera Pamerkan Ijazahnya

Menurut Tony, persoalannya bukan sekadar apakah Gibran bisa bertahan atau tidak. Ada kekuatan politik lain yang menurutnya perlu diperhitungkan, yakni mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Tony menilai Jokowi masih memiliki kapasitas politik dan jaringan yang cukup kuat. Jika putra sulungnya dianggap ditumbangkan secara paksa oleh kekuatan politik di Senayan, situasinya berpotensi memicu perlawanan yang lebih besar.

"Jokowi bisa menjadi faktor konsolidasi bagi semua musuh presiden untuk meningkatkan perlawanan. Perlawanan Jokowi dipastikan akan sangat masif dan 'at all cost'," cetus Tony.

Skenario inilah yang menurut Tony perlu diwaspadai Prabowo. Sebab, ketika isu pemakzulan Gibran berubah menjadi pertarungan politik terbuka, Jokowi berpotensi menjadi titik temu bagi kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Tony memperkirakan simpati publik juga bisa ikut berubah apabila Gibran benar-benar kehilangan jabatannya.

Baca Juga: Prabowo Bakal Bertemu Megawati, Bahas soal Pemakzulan Gibran?

Menurutnya, jika wakil presiden dianggap dizalimi dan dipaksa lengser, simpati masyarakat akar rumput kepada keluarga Jokowi bisa kembali menguat.

"Ini bisa menjadi faktor penambah energi bagi dia untuk memasifkan perlawanan," katanya.

Dari sini, Tony melihat potensi terbentuknya kekuatan politik baru yang terdiri dari berbagai kelompok yang memiliki kepentingan berseberangan dengan pemerintahan saat ini.

Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar soal kursi Gibran. Pemerintahan Prabowo justru berpotensi menghadapi krisis politik yang lebih panjang karena konflik dapat melebar ke berbagai lini.

Karena itu, Tony menilai Prabowo harus menghitung setiap langkah dengan sangat hati-hati. Sebab, bola panas yang awalnya diarahkan kepada Gibran bisa saja memantul kembali dan justru menghantam pemerintahan Prabowo.

Di tengah panasnya isu tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Syahganda Nainggolan sebelumnya menegaskan bahwa putusan terkait keabsahan dokumen pendidikan Gibran sebagai syarat pendaftaran cawapres pada Pilpres 2024 tidak bisa serta-merta dijadikan alasan untuk memakzulkan Gibran.

Syahganda mengatakan pemerintah sebagai pihak eksekutif menghormati lembaga kekuasaan kehakiman, termasuk Mahkamah Konstitusi (MK). Pemerintah juga disebut masih memantau perkembangan dan dinamika kasus tersebut.

"Terkait tadi ke mana alurnya, ini kan kita masih melihat kan. Itu alurnya kan bisa ke politik, bisa ke kemudian ke hukum lainnya, dan lain-lain," ujar Syahganda.

Dengan demikian, bola pemakzulan Gibran kini bukan hanya soal nasib sang wakil presiden. Jika analisis Tony Rosyid benar-benar terjadi, keputusan politik terhadap Gibran justru bisa membuka babak baru yang lebih panas.