Di ranah personal, YSL Beauty bekerja sama dengan Yayasan Pulih menghadirkan program global Abuse Is Not Love untuk meningkatkan kesadaran mengenai kekerasan dalam hubungan berpasangan.
Business Unit General Manager YSL Beauty & Armani Beauty, Venesia Rizani, menekankan bahwa kekerasan dalam hubungan sering kali tidak disadari sejak awal.
“YSL Beauty adalah brand yang merayakan liberation atau kebebasan. Namun terkadang kebebasan tersebut terhambat oleh hubungan personal yang mengekang dan merenggut kebebasan itu—seringkali tanpa disadari,” jelas Venesia.
“Melalui Abuse Is Not Love, kami mengedukasi masyarakat mengenai sembilan tanda kekerasan dalam hubungan agar dapat dikenali sejak dini, seperti mengabaikan, meremehkan, mengontrol, memanipulasi, mengancam, mencemburui, mengintrusi, mengisolasi, dan mengintimidasi.”
Psikolog Agata Paskarista menambahkan bahwa kekerasan psikis sering kali sulit dikenali karena tidak meninggalkan luka fisik.
“Kekerasan psikis sering luput disadari karena tidak meninggalkan luka fisik. Ia bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius,” jelas Agata.
“Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan. Yang terpenting, jangan menyalahkan korban. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor," lanjutnya.
Selain rasa aman, akses terhadap pendidikan, pekerjaan formal, dan jalur pengembangan karier juga menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan perempuan.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 menunjukkan perempuan di Indonesia masih mewakili 36,66 persen pekerja formal. Di sisi lain, sekitar 40 persen perempuan pernah mengambil jeda karier untuk menjalankan peran pengasuhan dan tanggung jawab keluarga.
Untuk menjawab tantangan tersebut, L’Oréal Indonesia menghadirkan sejumlah program pemberdayaan. Melalui Beauty for a Better Life, L’Oréal menyediakan pelatihan tata rambut dan tata rias bersertifikat secara gratis bagi perempuan dengan keterbatasan sosial ekonomi.
Sejak 2014 hingga 2023, program ini telah membantu 3.749 perempuan memperoleh keterampilan dan akses kerja sehingga dapat menjadi lebih mandiri secara ekonomi.
L’Oréal juga menghadirkan Career Reconnect Program, jalur returnship pertama di Indonesia yang dirancang untuk membantu perempuan kembali ke dunia kerja setelah career break.
Selain itu, melalui program Hairducation, L’Oréal bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk memperkuat kualitas pendidikan SMK jurusan Tata Kecantikan Rambut.
Hingga saat ini, sebanyak 88 guru dari 46 SMKN telah dilatih dan lebih dari 4.200 lulusan dipersiapkan untuk memasuki industri tata rambut Indonesia.
Bagi L’Oréal, pemberdayaan perempuan tidak hanya tentang membuka akses, tetapi juga memastikan perempuan mendapatkan pengakuan atas kontribusinya.
Melanie Masriel menegaskan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan dan diakui kontribusinya, dampaknya akan jauh melampaui individu.
“Bagi L’Oréal, pemberdayaan bukan hanya tentang membuka pintu. Ini tentang memastikan perempuan memiliki bekal untuk melangkah, ruang untuk berkembang, dan pengakuan yang memberi legitimasi untuk memimpin perubahan,” papar Melanie.
“Ketika kesempatan benar-benar dibuka dan kontribusi benar-benar diakui, perempuan tidak hanya mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga menciptakan dampak yang lebih luas bagi keluarga, komunitas, dan masa depan Indonesia," tandas Melanie.
Baca Juga: L’Oréal Indonesia Gaungkan Pentingnya Kesehatan Mental