Dalam momentum International Women’s Day 2026, L’Oréal Indonesia kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong kemajuan perempuan melalui penciptaan ruang yang aman, akses terhadap peluang yang setara, serta pengakuan atas kontribusi perempuan di berbagai bidang.

Sebagai perusahaan kecantikan global yang telah hadir lebih dari 47 tahun di Indonesia, L’Oréal terus memperkuat upayanya melalui berbagai program sosial korporat dan inisiatif dari brand-brandnya.

Program seperti L’Oréal Paris Stand Up, YSL Beauty Abuse Is Not Love, hingga L’Oréal Beauty For A Better Life telah menjangkau ratusan ribu penerima manfaat di Indonesia.

Perempuan Indonesia sendiri terus menunjukkan kemajuan yang membanggakan di berbagai sektor, mulai dari jurnalistik, diplomasi, sains, hingga industri kreatif. Namun, perjalanan menuju kesetaraan masih menghadapi tantangan besar. Secara global, dunia diperkirakan masih membutuhkan sekitar 135 tahun untuk mencapai kesetaraan ekonomi penuh.

Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L’Oréal Indonesia, Melanie Masriel, menegaskan bahwa komitmen terhadap kemajuan perempuan merupakan bagian dari identitas perusahaan.

“Bagi kami, merayakan perempuan bukan sesuatu yang musiman, tetapi bagian dari identitas perusahaan. Perempuan bukan hanya mayoritas konsumen kami, tetapi juga karyawan, inovator, dan talenta masa depan yang membentuk arah perusahaan setiap hari. International Women’s Day menjadi momen refleksi dan komitmen untuk terus mendorong kesetaraan yang lebih nyata,” tutur Melanie, dikutip Jumat (6/3/2026).

“Karena itu, kami berupaya menghadirkan tiga hal yang kami yakini penting bagi kemajuan perempuan: rasa aman sebagai fondasi, peluang yang nyata untuk berkembang, serta pengakuan atas kontribusi dan potensi mereka. Kami percaya, ketika perempuan maju, dampaknya akan dirasakan jauh lebih luas,” tambahnya.

Meskipun kemajuan terus terjadi, isu keamanan masih menjadi tantangan besar bagi perempuan. Data Komnas Perempuan melalui laporan CATAHU Komnas Perempuan 2024 mencatat terdapat 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) di Indonesia sepanjang 2024. Angka ini meningkat lebih dari 43.000 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagian besar kasus terjadi di ranah personal, yaitu sebanyak 309.516 kasus, sementara 12.004 kasus terjadi di ranah publik atau komunitas. Seiring perkembangan teknologi, kekerasan berbasis gender juga semakin banyak terjadi di ruang digital, memperluas risiko yang dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Plt. Direktur Eksekutif Yayasan Pulih, Dr. Livia Iskandar, menjelaskan bahwa tingginya angka tersebut berkaitan erat dengan akar persoalan struktural.

“Kekerasan berbasis gender berakar pada ketidakadilan berbasis gender, penyalahgunaan relasi kuasa, dan budaya patriarki. Jika diibaratkan pohon, kekerasan yang terlihat hanyalah daun. Akar persoalannya ada pada kurangnya edukasi, ketimpangan relasi, dan sistem yang belum sepenuhnya berpihak pada korban,” jelasnya.

“Karena itu, pencegahan harus menyasar akar melalui edukasi, dukungan yang berpihak, dan akses bantuan yang mudah dijangkau,” tambah Livia.

Bentuk kekerasan yang dilaporkan pun beragam. Kekerasan seksual menjadi yang paling banyak dilaporkan sebesar 36,43 persen, disusul kekerasan psikis 26,94 persen, kekerasan fisik 26,78 persen, serta kekerasan ekonomi 9,84 persen.

Untuk membantu mencegah kekerasan di ruang publik, L’Oréal Paris menghadirkan program Stand Up Melawan Kekerasan Seksual di Ruang Publik yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus memberikan panduan intervensi yang aman.

Brand General Manager L’Oréal Paris, Rosyanti Chijanadi, mengatakan bahwa program ini dilandasi keyakinan bahwa setiap perempuan berharga.

“L’Oréal Paris percaya bahwa every woman is worth it. Semua perempuan harus menyadari bahwa dirinya berharga dan terbebas dari berbagai bentuk pelecehan yang sayangnya masih menjadi isu utama perempuan di dunia maupun Indonesia,” ujar Rosyanti.

“Kami percaya ruang publik yang aman adalah fondasi agar perempuan dapat beraktivitas, berkarya, dan berkembang secara optimal. Karena itu, kami memperkenalkan metodologi 5D, lima langkah sederhana yang dapat dilakukan siapa pun secara aman: Dialihkan, Ditegur, Dilaporkan, Ditenangkan, dan Dokumentasikan," ungkapnya.

Baca Juga: L’Oréal Indonesia Luncurkan ‘Career Reconnect’ untuk Dukung Perempuan Kembali Bekerja