Managing Director Lubricants at Shell Indonesia, Andri Pratiwa, menegaskan bahwa perusahaan tidak akan memberikan toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran atas core values yang menjadi fondasi organisasi.

Andri menjelaskan, Shell Indonesia menjunjung tiga nilai utama (core values), yakni honesty, integrity, dan respect, yang wajib dipahami dan diterapkan secara konsisten oleh seluruh anggota tim.

“Ada core value di kita, adalah honesty, integrity, respect. Kalau sudah aturannya melanggar dari integritas, karena itu benar-benar core value kita, mungkin itu sesuatu yang kita tidak bisa toleransi,” tutur Andri, di Jakarta, belum lama ini.

Bagi Andri, nilai bukan sekadar slogan di dinding kantor, melainkan kompas dalam setiap pengambilan keputusan.

Ketiganya, kata dia, wajib dipahami serta diterapkan secara konsisten oleh seluruh anggota tim.

Integritas, menurutnya, bukan ruang abu-abu yang bisa ditawar. Ketika batas itu dilanggar, perusahaan harus bersikap tegas.

Meski tegas terhadap pelanggaran nilai inti, Andri membedakan antara pelanggaran integritas dengan kegagalan dalam proses mencoba dan belajar.

Ia pun menekankan pentingnya melihat intensi di balik sebuah tindakan.

“Tapi kalau dia sifatnya adalah yang dia mencoba gagal, mencoba gagal. Nah, itu harus di-empower tuh. Harus dilihat intensinya apa, intensinya bagus gak dia melakukan itu,” jelasnya.

Baca Juga: Mengulik Fakta Shell Indonesia Melepas Bisnis SPBU

Bagi Andri, kegagalan dalam upaya yang jujur justru harus didukung. Budaya kerja yang sehat adalah budaya yang memberi ruang untuk bereksperimen, selama tetap berada dalam koridor nilai perusahaan.

“Jadi saya benar-benar meng-encourage tim saya, jangan takut salah, lakukan tapi belajar dari situ. Belajar dari situ dan jangan jatuh di tempat yang sama lagi,” tegasnya.

Pendekatan ini menunjukkan keseimbangan antara ketegasan dan pemberdayaan.

Menurutnya, kesalahan bukan untuk dihukum secara membabi buta, melainkan untuk dijadikan bahan pembelajaran agar tim semakin matang dan tangguh.

Namun, Andri menggarisbawahi bahwa ada garis tegas yang tidak boleh dilanggar, terutama yang berkaitan dengan integritas dan keselamatan (safety).

Dalam konteks ini, kata dia, perusahaan tidak bisa bersikap lunak.

“Tapi kalau dia melakukan nekat, tapi itu melanggar rambu-rambu core value kita, kalau itu masalah integritas, safety, itu mungkin bentuknya yang kita harus lebih tegas dalam hal itu. Jadi rambunya harus clear,” tandasnya.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ingrid Siburian, Pemimpin Shell Indonesia