Rhabdomyolysis sendiri, kata dr. Tirta, merupakan kondisi ketika jaringan otot mengalami kerusakan berat sehingga melepaskan protein dan zat lain ke dalam aliran darah. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan ginjal hingga mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, dr. Tirta mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan intensitas olahraga dengan tujuan masing-masing.
"Kalau olahraga tujuannya cuma buat bugar, nggak apa-apa. Tapi kalau tujuanmu sudah mengejar performance, lakukan dengan cara yang benar," tegasnya.
Ia juga menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) di dunia olahraga yang membuat sebagian orang tergoda mengikuti tren tanpa persiapan memadai.
"Kalau kamu mau FOMO, nggak apa-apa. FOMO itu bagus sepanjang kamu tahu risikonya dan tidak langsung dadakan, merasa overestimate terhadap diri sendiri. Mampunya baru segini, tapi tiba-tiba mengejar performance yang jauh lebih tinggi," ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Tirta mengingatkan bahwa kondisi kesehatan setiap orang tidak selalu diketahui secara pasti. Seseorang bisa saja memiliki gangguan pada pembuluh darah tanpa gejala, sehingga olahraga dengan intensitas tinggi secara mendadak dapat memicu komplikasi serius.
"Kita nggak tahu kondisi pembuluh darah kita seperti apa. Takutnya ada trombus, lalu pecah, kemudian menyumbat pembuluh darah. Akibatnya bisa terjadi emboli paru ataupun stroke iskemik," jelasnya.
Terakhir, dr. Tirta pun mengajak masyarakat untuk menjadikan olahraga sebagai sarana menjaga kesehatan, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar pencapaian tanpa persiapan.
"Sesuaikan olahraga dengan goal masing-masing. Yang paling penting, lakukan dengan aman, bertahap, dan sesuai kemampuan tubuh. Salam sehat buat kawan-kawan semua," tutup dr. Tirta.
Baca Juga: Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi, Berbahayakah? Begini Penjelasan Dokter Tirta