Akademisi sekaligus Pengamat Kebijakan Publik Universitas Esa Unggul, Iswadi, mengatakan bahwa penerbitan Merah Putih Bond adalah langkah strategis untuk memperkuat pembiayaan pembangunan nasional sekaligus memperluas sumber pendanaan jangka panjang. Iswadi menilai, instrumen tersebut memiliki potensi besar untuk menghimpun dana masyarakat dan diaspora Indonesia guna mendukung pembangunan nasional.

"Merah Putih Bond merupakan inovasi pembiayaan yang patut diapresiasi. Indonesia membutuhkan alternatif pendanaan yang berkelanjutan untuk mendukung pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, ketahanan pangan, energi, dan transformasi ekonomi nasional," kata Iswadi saat diwawancarai melalui telepon dari Jakarta, Senin (29/6/2026).

Baca Juga: Investasi Boleh Dicoba, tapi Jangan Pakai Uang untuk Bertahan Hidup

Menurut Iswadi, kehadiran instrumen yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) tersebut bisa menjadi upaya memperkuat pasar keuangan domestik. Harapannya, instrumen ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal. Ia juga menilai rencana pemanfaatan Merah Putih Bond untuk mendorong repatriasi dana masyarakat Indonesia di luar negeri memiliki nilai strategis apabila didukung kepastian hukum, keamanan investasi, serta imbal hasil yang kompetitif. 

"Repatriasi dana bukan hanya soal menawarkan instrumen investasi, melainkan juga membangun keyakinan bahwa dana yang ditempatkan di dalam negeri dikelola secara profesional, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang jelas," katanya.

Biasanya, para calon investor, kata Iswadi, akan mempertimbangkan stabilitas kebijakan, kredibilitas institusi, transparansi penggunaan dana, serta prospek ekonomi nasional sebelum mengambil keputusannya. Apabila dana dari luar negeri masuk kembali ke sistem keuangan nasional, ia yakin, hal tersebut berpotensi meningkatkan likuiditas dan mendukung pembiayaan berbagai proyek strategis yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Terkait peran Danantara sebagai penerbit, Iswadi menekankan pentingnya penerapan transparansi, penguatan tata kelola, pengawasan yang independen, serta komunikasi yang terbuka. Selain itu, proyek yang dibiayai harus memiliki dampak ekonomi yang terukur agar investor dapat melihat manfaat nyata dari investasi mereka. "Kepercayaan merupakan modal utama dalam industri keuangan. Jika Merah Putih Bond dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel, saya optimistis instrumen ini dapat menjadi sumber pembiayaan pembangunan sekaligus simbol kepercayaan masyarakat terhadap masa depan ekonomi Indonesia," tandasnya.