Kematian misterius Sutrimo Kepala Rumah Tangga (Karumga) mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah memasuki babak baru. 

Kekinian muncul satu nama yang dikait-kaitkan dengan peristiwa tewasnya Sutrimo yang secara tiba-tiba itu, sosok tersebut adalah Febrio Adiono. 

Febrio diketahui menjadi salah satu dari tiga orang yang mengantar Sutrimo ke rumah sakit Muhammadiyah Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setelah Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di depan sebuah klinik kecantikan terbengkalai yang hanya berjarak 450 meter dari rumah Febrie Adriansyah pada 23 Juli 2026 lalu. 

Baca Juga: Ada Dugaan Diracun, Keluarga Lapor Polisi Minta Kematian Sutrimo Karumga Febrie Adriansyah Diusut Tuntas, Siap Lakukan Autopsi!

Pihak Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring telah mengonfirmasi nama tersebut, tim legal RS Muhammadiyah Ahmad, mengatakan Febrio mengaku sebagai kerabat Sutrimo yang terdaftar dalam formulir. Namun ketiga orang ini tidak menjelaskan informasi  lebih jauh mengenai kondisi maupun identitas korban sebelum dinyatakan tewas oleh pihak rumah sakit.

Dalam formulir itu, Febrio menjelaskan bahwa sebelum menemukan Sutrimo tak sadarkan diri, korban sempat menghubunginya pada hari yang sama sekitar pukul 06.37 WIB, di sini Sutrimo kata Febrio sempat mengeluh sakit, namun sesat kemudian yang bersangkutan ditemukan tak sadarkan diri.

Dalam keterangannya di formulir tersebut,  Febrio mengatakan, ketika ditemukan Sutrimo mengeluarkan busa dari mulut dan hidung. 

Belakangan diketahui, Febrio merupakan ajudan Febrie Adriansyah. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung (Kejagung), Anang Supriatna membenarkan hal itu.

"Yang namanya Saudara Febrio, yang kami tahu memang dia pegawai Kejaksaan, tapi bukan jaksa, pegawai Kejaksaan," kata Anang.

"Stafnya (Febrie) ya. Iya (Stafnya Febrie). (Saat ini) staf biasa. Nggak (mendampingi pejabat Kejaksaan lainnya)," ujar Anang.

Keluarga Siap Autopsi

Pada sisi lain, keluarga mendiang Sutrimo akhirnya melayangkan laporan polisi dan meminta kejanggalan kasus ini dibongkar tuntas. 

Lapor itu dibuat pada sabtu (8/8/2026) malam di Polresta Banyumas oleh saudara kandung Sutrimo, Suting  serta anak Sutrimo, Abhi. keduanya ditemani juru bicara keluarga. 

Suting mengatakan pihak keluarga siap mengikuti seluruh ketentuan dan prosedur hukum dalam proses mengungkap penyebab kematian Sutrimo termasuk mentaati proses ekshumasi atau pembongkaran makam untuk kepentingan autopsi. 

Dia kemudian menceritakan awal mula jenazah Sutrimo diserahkan kepada pihak keluarga, dia mengatakan saat diserahkan jenazah sudah dalam keadaan "bersih" dan "dikafani".

Pihak keluarga enggan menyebut dan mengaku tidak mengetahui pihak yang memberikan jenazah mendiang. Namun mereka mengakui ikut menerima KTP mendiang, dokumen, serta santunan sebesar Rp20 juta yang diterima ayah mendiang.

Ketika mendiang yang sudah terbungkus kain kafan datang dan sempat dibuka untuk memastikan identitas, pihak keluarga Sutrimo langsung bersiap untuk memakamkan jenazah.

"Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena ya namanya orang kampung, badan jenazah bersih, ya jadi enggak ada kecurigaan apa-apa. Tapi setelah ada berita-berita muncul ini, sekarang melaporkan untuk melihat kepastian dari kematian Mas Sutrimo itu ya," kata Suting.

Diduga Diracun

Terpisah, Pengamat militer dan kepolisian, Prof. Hermawan Sulistyo atau Prof. Kikiek mengatakan kematian Sutrimo di tengah kasus korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menyeret Febrie Adriansyah jelas janggal. 

Dia berkeyakinan Sutrimo tewas dibunuh karena mengetahui banyak hal soal kasus yang menjerat bosnya itu.  Ia dihabisi untuk menghilangkan jejak kejahatan sebab yang bersangkutan berpotensi menjadi saksi kunci. 

"Nah kalau kita kaitkan dengan penjaga rumah yang saya yakin terbunuh. Penyidik yang paling bodoh pun tahu bahwa enggak mungkin mati wajar seperti itu," kata Kikiek dalam sebuah wawancara di saluran Youtube Mahfud MD Official dilansir Olenka.id 

"Ini saksi yang paling penting. Saksi kunci nomor satu. Pasti dia tahu banyak. Agak sulit menghilangkan jejak ini karena orangnya masih hidup. Satu-satunya cara ya di-Sukabumikan,"tambahnya. 

Baca Juga: Febrie Adriansyah Resmi Lakukan Perlawanan Terbuka: Status Tersangka dan Penahanan Tidak Sah!

Kikiek mengatakan, kematian mendadak yang picu penyakit kata Kikiek adalah orang yang mengalami serangan jantung, namun Sutrimo yang sudah berusia 42 tahun sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit mematikan tersebut. 

"Celakanya, dari proses ditemukan mayatnya itu kan aneh. Dia dari rumah merasa sakit, ke klinik. Nah di klinik, mati di klinik. Ini saja sudah aneh. Kalau sudden death atau mati mendadak, porsi besarnya biasanya karena jantung. Ini orang baru 42 tahun. Tidak ada riwayat jantung, tidak ada riwayat penyakit kronis lain sebelumnya," ungkapnya.

Kikiek menduga Sutrimo meninggal dibunuh dengan cara diracun, dia mengatakan ada dua jenis racun yang diduga kuat dipakai untuk menghabisi Sutrimo yakni  arsenikum atau sianida.

"Salah satu kemungkinannya adalah diracun. Kalau diracun, ada dua jenis yang biasa dipakai, yakni arsenikum dan sianida," ujarnya.