Isu perpecahan Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Prabowo Subianto semakin terlihat kentara. Desas-desus itu kini sudah tidak bisa dianggap hanya sekadar isu liar atau hanya asumsi politik belaka.

Pengamat Politik Hendri Satrio memotret perpecahan ke dua kubu dengan sangat jelas lewat  berbagai peristiwa politik yang  terjadi beberapa hari belakangan ini. Terbaru adalah soal pengumuman Jokowi mengenai status keanggotaan di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Baca Juga: Politik Nasi Goreng Part III yang Tertunda: Kapan Mega-Prabowo Duduk Semeja Lagi?

Hensa sapaan Hendri Satrio mengatakan aksi Jokowi memamerkan Kartu tanda anggota (KTA) PSI tidak bisa dimaknai sebagai sebuah peristiwa politik bisa, itu bukan sekadar masalah administrasi kepengurusan partai belaka, namun hal ini perlu dilihat dengan cermat dan mendalam. 

Jokowi memilih mengumumkan status keanggotaanya di Bandung Jawa Barat, padahal itu bisa saja dilakukan di tempat lain misalnya saja di kampung halamannya di Solo, Jawa Tengah. 

Pemilihan Bandung sebagai lokasi mendeklarasikan diri bukanlah hasil pemilihan lokasi secara acak atau hanya kebetulan semata , ada hitung-hitungan politik yang sebelumnya telah dipikir masak-masak. 

Semua orang tahu, bahwa Bandung merupakan salah satu basis suara Partai Gerindra yang dibesut Prabowo atau dengan kata lain Bandung adalah sarang garuda merah istilah yang merujuk pada lambang partai Gerindra. 

Dari kota dingin itu, Jokowi sedang mengirim pesan ke istana kepresidenan, bahwa dirinya siap mengepung dan merebut Bandung dari tangan Prabowo pada Pemilu 2029. Jokowi sudah terang-terangan menabuh genderang perang melawan Prabowo. 

“Kenapa harus di Bandung? Kenapa harus di Jawa Barat? Jadi dia ingin berkomunikasi ke penguasa hari ini bahwa saya ada di kandang Anda. Ingat lho, Jawa Barat itu kandangnya Pak Prabowo,” ujar Hensa dilansir Olenka.id dari saluran Youtbube YouTube Hendri Satrio Official Rabu (30/9/2026).

Peristiwa ini mengonfimasi bahwa Prabowo dianggap menjadi lawan yang sangat kuat bagi kubu Jokowi, Prabowo lebih sulit dikalahkan ketimbang PDI-Perjuangan, untuk itu Jokowi memilih mengesampingkan permusuhannya dengan Megawati dan fokus pada Prabowo. 

“Kalau dia mau berhadapan dengan mereka, dia umumkan di Jawa Tengah. Tapi kenapa dia enggak umumkan di Solo? Kalau dia umumin di sana, pasti dampaknya enggak besar. Tapi ini Jawa Barat, kandangnya Prabowo,” kata dia.

Kendati kerap tampil romantis di hadapan publik, namun Jokowi dan Prabowo sebetulnya diam-diam telah pisah jalan. Jokowi menyadari permusuhan keduanya meruncing setelah putranya Gibran Rakabuming Raka diperkarakan di Mahkamah Konstitusi. Dalam masalah itu, Prabowo dan para pendukungnya sama sekali tak mau ambil pusing sehingga terkesan Gibran dibiarkan menghadapi masalah berat itu seorang diri. 

“Lantas saya pernah bilang, belum saatnya ada permusuhan Jokowi dan Prabowo. Tapi dengan adanya isu threshold kemarin, kemudian pengadilan tentang Gibran. Saya rasa dia mulai menyadari,” kata Hensa.

Baca Juga: Menghitung Peluang Dedi Mulyadi di Pilpres 2029: Kans Jadi Cawapres Prabowo Terbuka Lebar!

“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” tambahnya memungkasi.