Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau hingga kini masih terus dilakukan tim SAR gabungan. Memasuki hari ke-23, keberadaan delapan korban maupun bangkai kapal yang ditumpangi belum juga ditemukan.

Pakar Oseanografi IPB University, Prof. Agus S Atmadipoera, menjelaskan, kondisi perairan Selat Sunda yang sangat dinamis menjadi salah satu faktor yang menyulitkan proses pencarian.

Kawasan tersebut memiliki arus kuat, terutama pada periode Juli hingga September, yang dipengaruhi oleh kombinasi pasang surut, gelombang musim timur dari arah selatan, serta topografi perairan yang kompleks.

“Kombinasi tersebut serta topografi yang sangat kompleks di kawasan Selat Sunda memberikan arus yang sangat kuat, sehingga hal itu yang saya kira mempengaruhi kehilangan kapal sulit dicari oleh tim Basarnas,” ujar Prof. Agus, dikutip dari laman IPB University, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, arus di kawasan sekitar Krakatau dapat membawa objek yang berada di permukaan bergerak cukup cepat menuju Samudera Hindia, terutama ke arah selatan atau barat daya. Kondisi tersebut menjadi semakin sulit dipantau apabila kapal mengalami drifting atau terombang-ambing tanpa sinyal komunikasi.

“Dari hitungan saya, secara kasar, dari sekitar Krakatau itu 2–3 hari sudah terlepas ke Samudera Hindia, keluar dari Selat Sunda bila memasuki arus utama yang kuat,” jelasnya.

Meski demikian, Prof. Agus mengatakan, masih terdapat kemungkinan objek terbawa oleh arus balik atau mengalami resirkulasi. Kondisi ini dapat membuat objek bergerak kembali atau terdampar di kawasan kepulauan di sisi selatan, termasuk Pulau Panaitan dan Ujung Kulon.

Baca Juga: 5 Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Gunung Anak Krakatau, Tim SAR Perluas Pencarian