Menariknya, kata dia, menstruasi juga berkaitan dengan pertumbuhan tinggi badan. Setelah menstruasi pertama terjadi, potensi pertumbuhan tinggi anak biasanya hanya berlangsung sekitar 1–1,5 tahun.
Karena itu, orang tua disarankan memantau kurva pertumbuhan anak sejak usia 10 tahun. Dijelaskan dr. Dinda, jika tinggi badan anak masih di bawah rata-rata saat memasuki masa pubertas, konsultasi dengan dokter anak dapat membantu mengoptimalkan pertumbuhan.
Dalam hal usia, dr. Dinda menjelaskan bahwa menstruasi pertama umumnya terjadi pada rentang usia 10–11 tahun. Namun, ada batasan yang perlu diperhatikan. Jika hingga usia 14 tahun anak belum menunjukkan tanda-tanda pubertas sama sekali, atau hingga usia 16 tahun belum mengalami menstruasi meskipun tanda pubertas lain sudah muncul, maka pemeriksaan medis sangat dianjurkan.
“Menstruasi adalah tahap akhir dari pubertas, jadi tanda-tanda pubertas lainnya harus diamati terlebih dahulu. Kalau belum juga terjadi dalam batas usia tersebut, sebaiknya segera diperiksakan,” tambahnya.
Lebih jauh, ia juga meluruskan anggapan bahwa usia menstruasi pertama berkaitan langsung dengan menopause.
"Hal tersebut lebih dipengaruhi oleh kualitas sel telur dan faktor genetik keluarga, kecuali jika terdapat kondisi medis tertentu," tutur dr. Dinda.
Nah Growthmaes, melihat pentingnya edukasi ini, WINGS Group Indonesia, Hers Protex, dan UNICEF Indonesia mengambil peran aktif melalui program edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang akan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026 di berbagai sekolah.
Program ini tidak hanya membekali remaja putri dengan pemahaman yang tepat tentang kesehatan dan kebersihan menstruasi, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih suportif, terbuka, dan inklusif.
Rangkaian program ini diluncurkan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat praktik kebersihan menstruasi sekaligus memperluas akses edukasi air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di lingkungan pendidikan.
Melalui kampanye Generasi Bersih Sehat, program ini akan menjangkau 20 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar, dengan target 2.000 siswi serta 2.000 orang tua.
"Inisiatif ini tentunya diharapkan menjadi langkah nyata untuk memecah stigma, membuka ruang dialog, serta memastikan setiap remaja putri dapat menjalani masa pubertas dengan lebih percaya diri, sehat, dan bermartabat," pungkas dr. Dinda.
Baca Juga: UNICEF Ungkap Peran WASH dalam Mendukung Kesehatan Menstruasi di Sekolah