Masalah pencernaan pada anak sering kali luput dari perhatian orang tua. Pasalnya, gejala yang muncul tidak selalu berupa muntah, diare, atau keluhan khas saluran cerna lainnya. Pada bayi dan balita yang belum mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, gangguan pencernaan justru kerap muncul dalam bentuk perubahan perilaku sehari-hari.

Dokter Spesialis Anak, dr. Miza Afrizal Azwir, Sp.A, BMedSci, M.Kes, menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam mendeteksi gangguan pencernaan pada anak adalah karena gejalanya sering kali tidak terlihat sebagai masalah pencernaan.

“Di saluran pencernaan anak, khususnya anak yang belum bisa berkomunikasi dengan baik, terkadang kita tidak tahu bahwa sedang terjadi masalah. Karena gejalanya sering tidak muncul sebagai gejala pencernaan. Anak bisa menjadi rewel, tidurnya tidak nyenyak, atau tidak mau makan,” ujar dr. Miza.

Menurutnya, banyak orang tua masih mengaitkan gangguan pencernaan hanya dengan gejala seperti muntah atau diare. Padahal, pada anak usia dini, tanda-tandanya bisa jauh lebih samar dan tidak spesifik.

“Jadi tidak melulu kita berbicara tentang gejala pencernaan seperti muntah atau diare. Tantangan terbesarnya ada pada anak-anak yang belum bisa mengutarakan apa yang mereka rasakan. Orang tua sering kali malah mencari penyebabnya ke hal-hal lain,” katanya.

Situasi berbeda biasanya terjadi pada anak yang sudah berusia di atas dua atau tiga tahun. Pada usia tersebut, anak umumnya sudah mampu mengomunikasikan ketidaknyamanan yang dirasakan.

“Kalau anak sudah bisa berkomunikasi, mereka bisa bilang perutnya tidak enak atau sakit. Walaupun kadang mereka menyebut semua keluhan sebagai sakit, setidaknya kita lebih mudah melacak sumber masalahnya,” papar dr. Miza, saat ditemui di acara LACTOGROW Digestion Expert Lab, di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta, belum lama ini.

dr. Miza menilai, kesadaran orang tua untuk mengenali adanya sesuatu yang tidak beres pada anak sebenarnya sudah cukup baik secara naluriah. Namun, kesadaran untuk menghubungkan perubahan perilaku anak dengan kemungkinan gangguan pencernaan masih belum merata.

“Kesadaran untuk melihat ada sesuatu yang salah pada anak sebenarnya secara natural dimiliki orang tua. Tetapi kesadaran untuk mencari tahu bahwa penyebabnya bisa berasal dari pencernaan, menurut saya masih belum merata di semua orang tua,” ungkapnya.

Dipaparkan dr. Miza, salah satu tanda yang patut dicurigai adalah ketika anak menjadi sangat rewel tanpa penyebab yang jelas. Bahkan, kondisi ini bisa ditandai dengan penolakan terhadap pengasuhan atau upaya menenangkan yang biasanya disukai anak.

“Semuanya kok seperti membuat dia marah, diapakan saja rewel. Pada anak-anak, khususnya bayi, kadang mereka juga menolak digendong atau ditenangkan. Padahal biasanya anak-anak jarang menolak pengasuhan. Kalau mereka rewel dan menolak ditenangkan, mungkin kita harus mulai memikirkan kemungkinan adanya masalah pencernaan,” kata dr. Miza.

Baca Juga: Kesehatan Pencernaan Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, LACTOGROW Hadirkan Digestion Expert Lab