Faktor pertama adalah kemampuan mengelola stres. Menurutnya, kadar hormon kortisol yang tidak terkontrol akibat stres dapat memicu munculnya gejala autoimun.

"Kalau orang-orang autoimun gampang bad mood, gampang marah, stres kerja, gejalanya bisa muncul. Dan itu fakta, bukan mitos. Ada di paper dan jurnal ilmiah," tegasnya.

Selain manajemen stres, kata dr. Tirta, olahraga rutin juga memiliki peran penting dalam mengendalikan peradangan di dalam tubuh. Aktivitas fisik yang dilakukan secara konsisten membantu mengontrol hormon stres sekaligus menekan proses inflamasi yang berlebihan.

Faktor berikutnya adalah pola makan. dr. Tirta menyarankan penderita autoimun untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food) dan lebih banyak mengonsumsi makanan segar dengan proses pengolahan minimal.

Tak kalah penting adalah menjaga kualitas tidur. Menurutnya, kebiasaan begadang dapat mengganggu keseimbangan hormon dan sistem metabolisme tubuh yang pada akhirnya memperburuk peradangan.

"Tidur teratur itu mengatur sistem metabolisme biologis tubuh, terutama hormon, supaya stabil. Kalau sudah hobi begadang terus, peradangannya tidak selesai-selesai dan autoimunnya akan terus kambuh," katanya.

Karena itu, dr. Tirta mengingatkan bahwa keberhasilan pengelolaan penyakit autoimun tidak hanya bergantung pada obat. Faktor gaya hidup memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas kondisi pasien.

"Nah bayangkan, kamu pasien autoimun, sering lembur, dimarahi bos, sedentary lifestyle. Ya sudah jelas tidak akan membaik, bahkan meskipun sudah minum obat," pungkasnya.

Baca Juga: Waspada Doomscrolling Bisa Picu Saraf Kejepit di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Tirta