Diare yang tak kunjung berhenti meski sudah mengonsumsi obat bebas sebaiknya tidak dianggap sepele. Terlebih jika kondisi tersebut disertai perut kembung, mual, badan terasa demam, hingga lemas.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Hematologi Onkologi Medik, Prof. Dr. Zubairi Djoerban, SpPD-KHOM, FINASIM, mengingatkan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan dokter.

Hal itu disampaikan Prof. Zubairi ketika menanggapi pertanyaan seorang ibu yang sehari-hari berjualan di warung tegal (warteg) dan gorengan. Ibu tersebut mengeluhkan diare yang terus berlangsung meski sudah mengonsumsi obat yang dibeli di warung.

“Ada yang bertanya ke saya, Prof, akhir-akhir ini saya kembung, mual terus, mencret, diare. Badan saya rasanya agak demam, kemudian lemas banget. Itu bagaimana ya sebaiknya, padahal saya sudah minum obat warung. Delapan tablet masih mencret juga,” demikian keluhan yang disampaikan kepada Prof. Zubairi.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Zubairi menjelaskan bahwa diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebabnya antara lain infeksi kuman, alergi, penyakit autoimun, maupun faktor lainnya. Namun, infeksi menjadi salah satu penyebab yang paling sering ditemukan.

“Begini Bu, jadi kalau mencret itu ternyata sebabnya macam-macam. Pertama, karena bakteri, kuman dan yang lain teman-temannya. Yang kedua, karena alergi. Yang ketiga, karena penyakit autoimun. Yang keempat, lain-lain,” tutur Prof. Zubairi, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Kamis (17/9/2026).

“Nah, paling sering adalah karena kuman, bakteri, virus,” lanjutnya.

Menurut Prof. Zubairi, tubuh manusia sebenarnya memiliki berbagai mikroorganisme yang hidup dalam kondisi seimbang, termasuk di mulut, kulit, dan saluran pencernaan.

Dalam kondisi normal, keberadaan mikroorganisme tersebut tidak selalu menyebabkan penyakit. Namun, masuknya kuman dari luar dapat mengganggu keseimbangan dan memicu infeksi.

Salah satu sumber yang perlu diwaspadai adalah makanan yang telah terkontaminasi.

Dalam kasus yang ditanyakan kepadanya, ibu tersebut mengaku sempat menyimpan lauk makanan di dalam kulkas karena tidak habis dimakan. Namun, keesokan harinya diketahui bahwa kulkas tersebut ternyata mati.

“Jadi akibat makanan yang terkontaminasi kuman atau bakteri. Nah, itu biasanya kalau ringan, sudah sembuh dengan obat yang Ibu minum dari warung tadi,” jelas Prof. Zubairi.

Baca Juga: Nyeri Dada GERD vs Nyeri Dada Jantung, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Dokter

Prof. Zubairi menerangkan, penyimpanan makanan dalam lemari pendingin bertujuan memperlambat pertumbuhan mikroorganisme sehingga makanan lebih awet.

Karena itu, ketika lemari pendingin tidak berfungsi, makanan yang disimpan di dalamnya berpotensi mengalami pertumbuhan kuman dan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi.

“Kalau kulkas mati, masukin makanan ke dalam kulkas tujuannya agar lebih awet, tidak terkontaminasi karena di udara dingin, kuman bakteri itu tidak bisa berkembang. Tapi kalau kulkasnya, lemari pendinginnya mati, nah itu kuman bisa timbul,” katanya.

Prof. Zubairi pun menambahkan, pada diare yang ringan, kondisi dapat membaik dengan sendirinya. Namun, apabila diare berlangsung terus-menerus dan tidak membaik setelah mengonsumsi obat, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.

“Namun kadang-kadang agak banyak kumannya, jadi tidak mempan. Kalau itu seringkali memerlukan antibiotik,” ujarnya.

Prof. Zubairi lantas menyarankan ibu tersebut tidak terus mencoba berbagai obat secara mandiri dan segera memeriksakan diri ke dokter, terutama karena diare sudah berlangsung cukup lama dan disertai keluhan lain seperti lemas.

“Jadi menurut saya, sudah waktunya Ibu ke dokter. Karena kalau diare berkepanjangan, untuk usia Ibu sekarang, itu bisa berbahaya. Jadi pesannya ke dokter berobat,” tegas Prof. Zubairi.

Selain memperhatikan kondisi tubuh ketika mengalami diare, Prof. Zubairi mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih, mengolah, dan menyimpan makanan.

Menurutnya, makanan memang merupakan sumber nutrisi penting bagi tubuh, tetapi makanan yang tidak diolah atau disimpan dengan baik justru dapat menjadi sumber masalah kesehatan.

“Makanan itu bisa sumber nutrisi, bikin badan kita kuat, kita bisa tumbuh kembang lebih baik. Namun sebaliknya kalau prosesnya atau penyimpanannya tidak baik, itu bisa membahayakan kesehatan kita,” pungkasnya.

Baca Juga: Keracunan MBG di SMA Berastagi, Dokter Ungkap Temuan Bakteri hingga Risiko Gagal Ginjal