Membangun bisnis keluaga bukanlah hal yang mudah, apalagi hingga mampu bertahan sampai generasi ketiga. Bisnis keluarga sering kali dihadapkan dengan ego dan masalah antar-anggota keluarga. Namun, deretan konglomerasi bisnis berikut sanggup mematahkan mitos tersebut.
Berikut deretan keluarga konglomerat yang mampu bertahan hingga generasi ketiga:
Baca Juga: Kerajaan Bisnis Jhonlin Group, Milik Pengusaha Kalimantan Selatan Haji Isam
1. Salim Group
Berawal dari Sudono Salim, Salim Group resmi berdiri di Indonesia pada tahun 1972. Kejayaan generasi pertama Salim Group tampak dari banyaknya perusahaan besar yang dimilki, seperti Indofood, Bogasari, BCA, Indomaret, Indocement, Indomobil, hingga hak waralaba KFC Indonesia. Sayangnya, krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 hampir meruntuhkan bisnis Sudono Salim hingga keluarga ini harus melepas sejumlah bisnisnya, termasuk BCA.
Di momen itulah peran generasi kedua keluarga Salim mengambil alih. Meneruskan kepemimpinan ayahnya, Anthoni Salim mampu mengembalikkan kejayaan Salim Group sebagai salah satu bisnis terbesar di Indonesia saat ini. Anthoni masih tercatat aktif dalam bisnis Salim Group dengan mengemban sejumlah jabatan, termasuk Presiden dan CEO Salim Group.
Meski masih dipimpin oleh generasi keduanya, generasi ketiga Salim Group sudah terlibat untuk nantinya meneruskan tambuk kepemimpinan. Calon pemimpin Salim Group selanjutnya adalah Axton Salim yang merupakan anak sulung Anthoni Salim. Cucu Sudono Salim ini menjabat sebagai Direktur Indofood sejak 2009 serta menjabat Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) sejak 2009 dan Kepala Divisi Dairy, serta jabatan lainnya.
Dia mengenyam pendidikan di Amerika Serikat dengan menyandang gelar Bachelor of Science in Business Administration dari University of Colorado pada tahun 2002.
2. Djarum Group
Kisah perjalanan bisnis Djarum Group diawali oleh Oei Wie Gwan yang awalnya mendirikan pabrik mercon. Setelah sempat mengalami insiden meledaknya pabrik di tahun 1939 dan 1942, Oei Wie Gwan melanjutkan bisnis dengan membeli perusahaan rokok NV Murup yang hampir gulung tikar di Kudus, Jawa Tengah pada tahun 1951. Perusahaan ini memproduksi rokok Djarum Gramofon yang kemudian dikenal dengan nama Djarum.
Selepas meninggalnya Oei Wie Gwan, bisnis Djarum Group dikendalikan oleh kakak-beradik Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Di tangan merekalah, Djarum berkembang pesat hingga menempatkan keduanya sebagai orang-orang terkaya di Indonesia. Jika digabungkan, mengutip Forbes, kekayaan keduanya mencapai US$50,3 miliar di tahun 2024 dan menduduki posisi pertama sebagai orang terkaya di Indonesia.
Baik keturunan Michael maupun Robert Hartono tercatat mengenyam jabatan penting dalam kerajaan bisnis Djarum Group. Akan tetapi, anak-anak Robert Budi Hartono lebih dikenal publik dan diprediksi yang akan meneruskan kepemimpinan di Djarum Group. Mereka adalah Victor Rachmat Hartono (Victor Hartono), Martin Basuki Hartono (Martin Hartono), serta Armand Wahyudi Hartono (Armand Hartono). Dari ketiganya, Armand Hartono diyakini sebagai putra mahkota yang akan segera naik takhta.
Saat ini, Victor Hartono merupakan Presiden Direktur Djarum Foundation sejak 2010 dan Chief Operating Officer (COO) PT DJARUM sejak 1999. Pria kelahiran 11 Februari 1972 ini merupakan anak sulung Robert Budi Hartono yang mengenyam pendidikan di Santa Barbara City College (1989-1991), Bachelor of Science Teknik Mesin University California-San Diego (1991-1994), dan Master of Business Administration Northwestern University (1996-1998).
Sementara itu, Martin Hartono merupakan putra kedua Robert Budi Hartono yang lahir pada 12 Desember 1973. Martin menjabat sebagai CEO GDP Venture, perusahaan investasi teknologi yang berfokus pada sektor digital di Indonesia. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Komisaris Utama Blibli.com sejak tahun 2010, serta beberapa jabatan lainnya. Martin merupakan lulusan University of California, San Diego, Amerika Serikat pada 1996 dengan gelar Bachelor of Arts Degree in Economics dan Master of Business Administration dari Claremont Graduate University, Amerika Serikat pada 1998.
Armand Hartono saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur BCA. Jabatan tersebut diemban oleh pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah pada 20 Mei 1975 ini sejak tahun 2016. Putra bungsu Robert Budi Hartono ini merupakan lulusan University of California, San Diego (1996) dan meraih gelar Master of Science di bidang Engineering Economic System and Operation Research (1997) dari Stanford University, Amerika Serikat.
3. Bluebird Group
Taksi Bluebird resmi berdiri di Indonesia pada tahun 1972 oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono. Perempuan yang akrab disapa Bu Djoko ini mengambil nama Bluebird yang terinspirasi dari dongeng Eropa berjudul Bird of Happiness atau 'Burung Pembawa Kebahagiaan'.
Dalam pengembangan bisnisnya, Bu Djoko dibantu oleh kedua putranya yang bernama Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto. Keduanya bahkan tercatat sebagai Co-Founder of Bluebrid Group. Sementara itu, Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono meninggal dunia pada 10 Juni 2000 lalu.
Saat ini, Bluebird Group telah dijalankan oleh generasi ketiganya yang diwakilkan oleh anak-anak Purnomo Prawiro dan Chandra Suharto. Salah satu putra Purnomo Prawiro yang bernama Adrianto (Andre) Djokosoetono saat ini menjabat sebagai Direktur Bluebird Group Holding sekaligus Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Andre merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Bentley College, Massachusetts.
Sementara itu, anak-anak Chandra Suharto yang juga terlibat aktif dan memegang kendali dalam bisnis Bluebird Group adalah Kresna Priawan Djokosoetono serta Sigit Priawan Djokosoetono tercatat. Kresna Priawan Djokosoetono menjabat sebagai Direktur Utama Bluebird Group Holding dan Komisaris PT Blue Bird Tbk. Dia merupakan Lulusan Universitas Indonesia (UI) dan Asia Institute of Management, Filipina. Sang adik, Sigit Priawan Djokosoetono saat ini menjabat sebagai Komisaris Bluebird Group Holding dan Wakil Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. Sigit merupakan lulusan Kampus Trisakti dan Simon School of Business University of Rochester, New York.
4. Lippo Group
Mendirikan Lippo Group sejak tahun 1950-an, Mochtar Riady tidak lagi menjabat dalam bisnis keluarganya tersebut sejak tahun 2005. Dia mempercayakan kelangsungan bisnis Lippo kepada anak-anaknya, yakni James Riady dan Stephen Riady.
Tak berhenti di generasi kedua, generasi ketiga Lippo Group saat ini juga tercatat aktif dalam pengembangan bisnis Lippo. Salah satu nama yang diyakini akan meneruskan kepemimpinan Mochtar Riady adalah John Riady yang merupakan anak James Riady. John merupakan lulusan Filsafat Politik dan Ekonomi dari Universitas Georgetown, MBA dari Wharton School of Business (Palmer Scholar) dan Juris Doctor dari Columbia University Law School. Dia menjabat sebagai Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR).
Tak hanya menjabat sebagai CEO Lippo Karawaci, John Riady juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Siloam Internasional Hospitals Tbk dan Komisaris Matahari Department Store Tbk. Dia juga merupakan anggota dari Indonesian APEC Business Advisory Council (ABAC), Dewan Eksekutif Wharton Business School Asia, serta Pemimpin Global Muda Forum Ekonomi Dunia (YGL).
Baca Juga: Kerajaan Bisnis Harita Group: dari Pertambangan hingga Sekuritas
5. Bakrie Group
Bakrie & Brothers atau yang lebih dikenal sebagai Bakrie Group awalnya didirikan oleh Achmad Bakrie pada tahun 1942. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 1989.
Selepas kepemimpinan Achmad Bakrie, bisnis keluarga ini diteruskan oleh Aburizal Bakrie yang melepas jabatannya di tahun 2004 untuk meneruskan karier politiknya. Sempat menjabat sebagai Menko Perekonomian dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia pada 2005-2009, mantan Ketua Umum Partai Golkar periode 2009-2014 ini tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Yayasan Bakrie Amanah. Meneruskan sang ayah dan kakeknya, kepemimpinan Bakrie Group kini dipegang oleh Anindya Novyan Bakrie, putra sulung Aburizal Bakrie.
Anindya Novyan Bakrie yang lahir pada 10 November 1974 ini menjabat sebagai Direktur Utama/CEO Bakrie & Brothers (BNBR). Selain itu, dia juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bakrie Global Ventura sejak 2012, Presiden Direktur PT Visi Media Asia Tbk sejak 2014, Presiden Komisaris PT Intermedia Capital Tbk sejak 2013, Komisaris PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk sejak 2012, serta Presiden Komisaris PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR). Dia juga menjabat Dewan Pembina Yayasan Bakrie Amanah.
6. Sampoerna Group
Berawal dari Liem Seeng Tee, Sampoerna Group kini menapaki perjalan hingga generasi keempat. Saat itu, seiring peraturan dari pemerintah untuk mengubah nama China, nama Liem diganti menjadi Sampoerna. Dia pertama kali menjual rokok hasil racikannya pada tahun 1913 di warung kelontong yang diberi nama Handelman Maatschappij (HM) Liem Seeng Tee.
Sampoerna kemudian memberi nama rokok hasil racikanmya dengan Dji Sam Soe. Bisnis keluarga ini makin membesar usai dikelola oleh anak pertama Sampoerna, yakni Liem Swie Hwa alias Adi Sampoerna. Selanjutnya, bisnis Sampoerna Group diambil alih oleh anak Adi Sampoerna, yakni Putera Sampoerna. Pria kelahiran Belanda, tepatnya di Schiedam, pada 13 Oktober 1947 ini mengenyam pendidikannya di Diocesan Boys School, Hong Kong dan di Melbourne, Australia, serta berkuliah di University of Houston, Texas, Amerika Serikat.
Usai kembali ke Indonesia, Putera menjabat sebagai CEO HM Sampoerna menggantikan ayahnya pada 1986. Di bawah kepemimpinannya, HM Sampoerna terus berekspansi hingga tahun 1900 disebut sebagai tahun ekspansi Sampoerna Group.
Singkat cerita, kepemimpinan dalam Sampoerna Group dilanjutkan oleh Michael Joseph Sampoerna yang merupakan anak dari Putera Sampoerna. Michael menduduki jabatan Presiden Direktur PT HM Sampoerna pada tahun 2000 setelah menggantikan ayahnya yang pensiun.
Pria kelahiran 23 Agustus 1978 ini mengenyam pendidikan di Millfield School, Somerset, Inggris, kemudian melanjutkan studi di London School of Economics dengan fokus bisnis dan keuangan. Dia kembali ke Indonesia pada tahun 1998.