Presiden Prabowo Subianto terus bersafari untuk mengamankan pasokan energi di tengah ancaman krisis imbas gejolak Timur Tengah karena perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Beberapa hari lalu, kepala negara terbang ke Moskow bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin. Kedua presiden itu bertemu selama lima jam dan membahas sejumlah hal termasuk kesepakatan memperkuat kerja sama dalam ketahanan energi migas serta hilirisasi.
Baca Juga: Prabowo Bakal Resmikan Museum Marsinah pada May Day 2026
Tuntas bertemu Putin, Prabowo melanjutkan perjalanan menuju Prancis, di sana ia bertemu presiden setempat Emmanuel Macron, di Istana Élysée, Pertemuan keduanya berlangsung sekitar dua jam.
Dalam pertemuan itu kedua kepala negara membahas penguatan kerja sama strategis Indonesia–Prancis di berbagai sektor prioritas. Fokus pembahasan mencakup pengembangan kerja sama di bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang yang saling menguntungkan.
“Tiba di Tanah Air, Presiden Prabowo membawa pulang oleh-oleh berbagai kesepakatan strategis," kata Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet dilansir Olenka.id Kamis (16/4/2026).
"Kunjungan singkat dua hari ke dua negara superpower, pemegang hak veto PBB dan penghasil sumber daya terbesar di dunia dengan hasil besar dan konkret untuk Indonesia Raya," tambahnya.
Masuk Zona Aman
Diplomasi Prabowo ke dua negara itu disambut positif sejumlah pihak. Langkah yang diambil Prabowo dinilai sangat strategis yang mampu mengamankan posisi Indonesia dari ancaman krisis energi yang mengancam sekarang ini.
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengatakan, berkat diplomasi itu, Indonesia kata dia sudah bisa dikategorikan sebagai salah satu negara yang telah berada di zona nyaman apabila krisis energi terjadi berkepanjangan.
“Dengan adanya suplai dan pasokan yang sudah bisa terjamin, saya kira kita sudah boleh dikatakan memasuki zona aman. Mudah-mudahan akan berlangsung seterusnya demikian, begitu,” kata Eddy.
Ia menjelaskan, dinamika energi global saat ini tengah mengalami disrupsi yang memicu terbentuknya pasar penjual (seller’s market). Dalam kondisi ini, negara produsen energi memiliki kendali lebih besar dalam menentukan harga, volume, hingga tujuan distribusi energi.
Situasi tersebut, lanjut Eddy, sempat menimbulkan kekhawatiran terkait ketahanan energi nasional. Namun, dengan adanya kerja sama yang dijajaki pemerintah Indonesia bersama Rusia, risiko tersebut dinilai dapat ditekan.
“Kita tidak perlu khawatir bahwa suatu ketika misalnya kendaraan kita enggak bisa berjalan ya, kapal laut tidak bisa berlayar, ya kereta api tidak bisa berjalan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Eddy menegaskan pemerintah juga telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas energi dalam negeri. Salah satunya melalui kebijakan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Menurut dia, langkah tersebut sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi global.
“Baik itu BBM untuk kendaraan transportasi maupun untuk rumah tangga yang LPG 3 kilogram ya. Jadi saya kira ini kebijakan yang sangat baik untuk menjaga daya beli masyarakat,” katanya.