Di tengah kenaikan harga bahan bakar pesawat, avtur, akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, aktivitas penerbangan di kawasan Asia Tenggara masih tetap tinggi. Meski sejumlah maskapai mulai memangkas rute internasional untuk menekan biaya operasional, bandara-bandara utama di kawasan ASEAN tetap menjadi pusat mobilitas jutaan penumpang.
Data terbaru dari perusahaan analis penerbangan asal Inggris, OAG, menunjukkan total kapasitas kursi penerbangan di Asia Tenggara mencapai 48,1 juta kursi. Angka tersebut memang turun sekitar 3,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun persaingan antarbandara terbesar di kawasan tetap berlangsung ketat.
Bandara Changi Singapura masih mempertahankan posisinya sebagai bandara tersibuk di Asia Tenggara, sementara Indonesia menempatkan tiga bandara dalam daftar 10 besar.
Baca Juga: Bukan Sekadar Tempat Transit, Ini 7 Bandara Terindah di Dunia Tahun 2026
Berdasarkan laporan yang sama, dikutip dari VN Express pada Minggu (28/06/2026), Bandara Changi Singapura kembali menempati posisi pertama sebagai bandara dengan kapasitas kursi terbesar di Asia Tenggara.
Meski kapasitasnya turun sekitar 2,9 persen secara tahunan, Changi masih melayani sekitar 3,48 juta kursi dalam periode pengamatan.
Posisi kedua ditempati Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), Malaysia, yang justru mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,1 persen menjadi 3,23 juta kursi. KLIA menjadi salah satu dari sedikit bandara utama di kawasan yang masih mampu meningkatkan kapasitas penerbangannya.
Baca Juga: Rencana Jalur Baru LRT Jakarta hingga PIK 2 dan Bandara Dikaji
Sementara itu, Bandara Internasional Suvarnabhumi di Bangkok, Thailand, berada di posisi ketiga dengan kapasitas 2,98 juta kursi, meski mengalami penurunan sebesar 3,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sekian banyak bandara yang dimiliki Indonesia, ada tiga wakil dalam daftar 10 bandara tersibuk di Asia Tenggara.
Salah satunya adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang menjadi bandara Indonesia dengan peringkat tertinggi, yakni di posisi keempat. Bandara yang melayani kawasan Jabodetabek tersebut memiliki kapasitas sekitar 2,9 juta kursi, meski turun 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Ada Milik Indonesia! 10 Bandara Terbaik di Asia Tahun 2024
Di posisi kesembilan terdapat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, dengan kapasitas sekitar 1,16 juta kursi. Sementara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar menempati posisi ke-10 dengan kapasitas sekitar 972 ribu kursi.
Kedua bandara tersebut sama-sama mengalami penurunan kapasitas lebih dari 11 persen.
Di antara bandara-bandara utama Asia Tenggara, pertumbuhan tertinggi justru dicatat Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina.
Bandara tersebut membukukan kenaikan kapasitas sekitar 2,6 persen menjadi 2,8 juta penumpang, sehingga berhasil menempati posisi kelima dalam daftar.
Sebaliknya, Vietnam mengalami penurunan cukup tajam. Bandara Tan Son Nhat mencatat penurunan kapasitas terbesar di kelompok 10 besar, yakni sekitar 12 persen, sedangkan Bandara Noi Bai turun sekitar 3,9 persen.
Baca Juga: Sejumlah Prestasi dan Transformasi Bandara Internasional Hamad di Usia 10 Tahun
Untuk lebih jelasnya, berikut daftar 10 bandara tersibuk di Asia Tenggara 2026, berdasarkan data OAG:
- Bandara Changi, Singapura – 3,48 juta kursi.
- Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia – 3,23 juta kursi.
- Bandara Internasional Suvarnabhumi, Thailand – 2,98 juta kursi.
- Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Indonesia – 2,90 juta kursi.
- Bandara Internasional Ninoy Aquino, Filipina – 2,80 juta penumpang.
- Bandara Tan Son Nhat, Vietnam – 1,95 juta penumpang.
- Bandara Noi Bai, Vietnam – 1,70 juta penumpang.
- Bandara Internasional Don Mueang, Thailand – 1,51 juta penumpang.
- Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Indonesia – 1,16 juta kursi.
- Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Indonesia – 972 ribu kursi.